Postingan

Terbang

Aku terbang untuk yang ke sekian Menjauh dari tanah Berpadu dengan angin Melayang riang Hingga lupa daratan Mungkin mabuk pujian Aku terbang untuk yang ke sekian Melambung jauh Tanpa peluh Merasakan semilir Sepertinya terhipnotis Tidak lagi realistis Aku terbang untuk yang ke sekian dan aku takut untuk jatuh (lagi) untuk yang ke sekian Aku butuh Tuhan PS. Kalau sudah terbang biasanya lupa kalau sewaktu - waktu (bisa) jatuh. Kapanpun kamu terjatuh, Dia siap memelukmu.

Di Ujung Jalan

Di ujung jalan ini, aku mengamatimu. Kamu yang selalu duduk di bangku taman baris kedua dari kanan. Kamu yang selalu membawa novel, buku, dan pena. Kamu yang selalu mengenakan gelang perak di tangan kanan. Kamu yang selalu membawa sebungkus roti cokelat. Kamu yang selalu tertawa saat membaca novel.  Kamu yang selalu menulis, entah tentang apa. Kamu yang selalu  tersenyum saat melihat awan. Kamu yang selalu meninggalkan bangku taman menjelang senja. Kamu yang selalu aku tunggu. Di ujung jalan ini, aku menatapmu. Mataku selalu mengawasimu. Memperhatikan langkahmu. Memandang dari jauh.  Menikmati melalui jarak tertentu. Tidak perlu mendekat. Aku takut. Terlalu pengecut memang. Menurutku, ini sudah lebih dari cukup. Tanpa perlu menyapamu. Tanpa perlu tahu siapa namamu. Tanpa perlu tahu bagaimana kamu. Tanpa perlu tahu masa lalumu. Tanpa perlu menerjemahkan perasaanku. Tanpa perlu kamu tahu. Di ujung jalan ini, aku bertanya dalam hati. Apa yang sedang terjadi padaku? ...

Diam

Aku butuh waktu untuk diam. Berlama – lama di kegelapan. Memejamkan mata dan menghirup udara malam. Menikmati setiap tarikan dan hembusan nafas. Menenangkan jiwa yang berontak. Melepaskan prasangka buruk. Mencoba berdamai dengan dunia. Aku butuh waktu untuk diam. Hanya mengamati. Tidak ingin banyak berkata. Tidak ada yang perlu disampaikan. Karena memang tidak butuh penjelasan. Cukup mata yang melihat. Telinga yang mendengar. Otak yang berpikir. Hati yang merasakan. Aku butuh waktu untuk diam. Bahkan cenderung apatis. Sedang tidak ingin kritis. Tidak tahu sampai kapan. Mungkin sampai aku mencapai ketenangan, dalam sebenar – benarnya diam. Karena dalam diamku, Kau pun sudah tahu. Bukan begitu?

Surat Khusus

Sore ini aku sengaja pergi sendiri ke toko alat  tulis di seberang jalan. Aku berencana membeli kertas, amplop, dan pena. Setelah berkeliling toko, pilihanku jatuh pada beberapa lembar kertas bercorak bunga mawar merah dengan warna peach  sebagai latarnya. Tidak lupa aku sertakan amplop wangi berwarna pink lembut. Warna pastel  adalah warna favoritmu bukan? Aku tahu kamu akan menyukainya. Aku juga akan membeli pena terbaik di toko ini. Pena dengan tinta hitam yang tidak mudah luntur. Aku memang ingin membuat kejutan untukmu melalui tulisan. Apa saja yang ingin aku tulis? Aku menulis semua tentangmu, tentang kita. Tentang kisah manis kita 30 tahun yang lalu di bulan Oktober. Aku tidak menulis secara rinci peristiwa itu. Terlau banyak kertas nanti. Aku rasa mengenang dan menyimpannya serapi mungkin dalam otakku sudah lebih dari cukup. Mungkin kamu juga berpikiran sama. Kisah manis akan selalu terekam dalam memori otak kan? Jadi aku akan menulis bagian – bagian romant...

Prasangka

Senyum simpulku mungkin saja membuatmu melayang. Tuturku membuatmu terkesan. Sorot mata dan kepolosanku bahkan bisa membuatmu terpana. Sayangnya, kamu tidak tahu apa yang ada di hati dan pikiranku. Kamu tidak tahu apa arti di balik senyumanku. Kamu belum paham makna di balik tuturku. Kamu hanya melihat dari apa yang terlihat. Kamu makhluk visual. Bukankah kamu menyukai aku yang sedang menarik perhatianmu?  Apakah kamu menyangka bahwa suatu hari aku akan menjatuhkanmu? Apakah kamu akan mengira aku bisa saja mendorongmu ke jurang? Masihkah kamu terkesan  jika esok hari aku tiba – tiba berteriak persis di belakang telingamu? Sudikah kamu tersenyum jika aku mencacimu di depan orang banyak? Memang, aku sedang bermain drama. Panggung ini menjadi saksi pertunjukan. Aku pemain yang memakai topeng berlapis. Dalam waktu singkat mudah bagiku berganti topeng. Tidak semua senyuman berarti kebahagiaan. Sama halnya tidak semua tangisan berarti kesedihan. Coba tanya dirimu. Mungkin sel...

Dalam Perjalanan

Aku berjalan tanpa alas kaki.  Melewati  padang  ilalang yang dipenuhi dandelion. Lambaian tanganku membuat bunga dandelion itu rapuh. Kelopak halusnya  lepas dan terbang mengikuti arah angin.  Aku terpana melihat perginya bunga – bunga itu. Tuhan menciptakan perpaduan yang pas antara sketsa senja, angin, dan bunga dandelion. Senja menjadi latar yang mampu menghadirkan efek dramatis. Dandelion menjadi tokoh utama. Angin menjadi pengiringnya. Angin seperti menuntun  yang bunga  yang sederhana itu menuju ke sebuah tempat. Dimana bunga itu akan singgah, aku tidak tahu. Mungkin dalam perjalanan terbangnya, bunga itu menemui berbagai hal. Dan pada akhirnya memang misteri. Apakah dandelion itu akan melebur bersama jutaan tetes air hujan? Apakah dandelion akan membaur saat melewati angin gurun? Apa mungkin dandelion dapat bertahan sampai di tempat tujuan? Bahkan dandelion pun tidak paham betul kemana tujuannya. Dandelion hanya pergi mengikuti sebuah kepast...

Berdua

Malam ini sama seperti malam kemarin. Hanya ada suara gemericik air di taman belakang rumah. Langit  tidak menampakkan purnamanya. Ada satu, dua, atau tiga bintang yang terlihat. Entahlah aku tidak begitu jelas mengamatinya. Rasanya warna langit malam ini terlalu gelap. Sayangnya, aku tidak ingin tidur. Aku takut mataku terpejam. Secangkir kopi mungkin cukup membuatku bertahan semalaman. Pikiranku memang penat. Hatiku lelah dengan segala prasangka. Tapi aku harap malam ini aku tidak bisa tidur. Aku ingin terjaga. Aku harap ini malam yang panjang. Bukannya aku tidak ingin bertemu pagi. Aku khawatir pagi tidak sehening malam ini. Tidak ada suara. Sunyi dan damai. Karena pagi ramai dengan manusia. Mereka sibuk dengan urusan masing masing. Lagipula, sinar matahari pagi terlalu menyilaukan bagiku. Meskipun aku sadar, datangnya pagi adalah sebuah kepastian. Sudahlah, pagi masih ada beberapa jam lagi. Yang jelas aku tidak ingin melewatkan malam ini. Malam ini memang sama sep...