Di Ujung Jalan

Di ujung jalan ini, aku mengamatimu. Kamu yang selalu duduk di bangku taman baris kedua dari kanan. Kamu yang selalu membawa novel, buku, dan pena. Kamu yang selalu mengenakan gelang perak di tangan kanan. Kamu yang selalu membawa sebungkus roti cokelat. Kamu yang selalu tertawa saat membaca novel.  Kamu yang selalu menulis, entah tentang apa. Kamu yang selalu  tersenyum saat melihat awan. Kamu yang selalu meninggalkan bangku taman menjelang senja. Kamu yang selalu aku tunggu.

Di ujung jalan ini, aku menatapmu. Mataku selalu mengawasimu. Memperhatikan langkahmu. Memandang dari jauh.  Menikmati melalui jarak tertentu. Tidak perlu mendekat. Aku takut. Terlalu pengecut memang. Menurutku, ini sudah lebih dari cukup. Tanpa perlu menyapamu. Tanpa perlu tahu siapa namamu. Tanpa perlu tahu bagaimana kamu. Tanpa perlu tahu masa lalumu. Tanpa perlu menerjemahkan perasaanku. Tanpa perlu kamu tahu.

Di ujung jalan ini, aku bertanya dalam hati. Apa yang sedang terjadi padaku? Begitu banyak pengunjung yang datang ke taman. Mungkin selalu berganti - ganti setiap harinya. Tapi, aku tidak bisa melepas fokus pandangan ini. Aku melakukannya di alam bawah sadar. Aku tidak ingin mengakhiri kenyamanan ini. Sampai tiba saatnya aku menyimpulkan. Kemudian memutuskan untuk tetap bertahan atau bahkan meninggalkan. Biarkan Dia yang menjawab, cepat atau lambat.

Di ujung jalan ini, aku tidak berharap banyak. Aku sedang menunggu saat yang tepat.


PS: Cerita untuk seorang teman. Jangan galau dear. Hidup harus terus berjalan kalau kamu masih mau makan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Path