Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2013

Berdua

Malam ini sama seperti malam kemarin. Hanya ada suara gemericik air di taman belakang rumah. Langit  tidak menampakkan purnamanya. Ada satu, dua, atau tiga bintang yang terlihat. Entahlah aku tidak begitu jelas mengamatinya. Rasanya warna langit malam ini terlalu gelap. Sayangnya, aku tidak ingin tidur. Aku takut mataku terpejam. Secangkir kopi mungkin cukup membuatku bertahan semalaman. Pikiranku memang penat. Hatiku lelah dengan segala prasangka. Tapi aku harap malam ini aku tidak bisa tidur. Aku ingin terjaga. Aku harap ini malam yang panjang. Bukannya aku tidak ingin bertemu pagi. Aku khawatir pagi tidak sehening malam ini. Tidak ada suara. Sunyi dan damai. Karena pagi ramai dengan manusia. Mereka sibuk dengan urusan masing masing. Lagipula, sinar matahari pagi terlalu menyilaukan bagiku. Meskipun aku sadar, datangnya pagi adalah sebuah kepastian. Sudahlah, pagi masih ada beberapa jam lagi. Yang jelas aku tidak ingin melewatkan malam ini. Malam ini memang sama sep...
Gambar
Mungkin kamu pernah terdampar di sebuah pulau yang tidak pernah kamu harapkan untuk singgah. Tapi Tuhan berkehendak lain. Dia mengajarkan kamu bagaimana caranya agar tetap bertahan di pulau tersebut. Butuh waktu bertahun - tahun untuk memahami. Hingga pada akhirnya kamu mulai menikmati kehidupan di pulau itu. Melebur dengan penduduknya. Mempelajari bahasanya. Beradaptasi dengan lingkungannya. Dan disaat kamu mulai merasa nyaman berada disana. Kamu ingat bahwa kamu harus pulang. Cita - cita jadi arsitek, interior desainer, dan pelukis yang tertunda

Terjebak

Aku berjalan sendiri. Menyusuri lorong sunyi dan gelap. Cahaya bulan sedikit menemani. Meskipun tidak begitu membantu. Aku benar - benar sendiri. Hanya meraba dinding lorong. Berharap aku tidak terjatuh. Aku ingin mencoba berlari. Tapi aku khawatir terperosok. Aku ingin teriak. Tidak ada manusia yang mendengar. Aku tercekat dan berhenti bernafas. Tapi jantungku masih berdetak. Aku terjebak. Aku berjalan sendiri. Berkeliling pasar malam. Sorot lampu memenuhi sudut. Sungguh ramai sekali. Ratusan manusia berkumpul pada satu tempat. Suara bising, dentuman musik, lagu, apapun itu. Terasa memekakkan telinga. Banyak orang bicara. Mereka tertawa lepas. Berisik sekali. Aku tenggelam dan ingin keluar dari kerumunan. Aku ingin teriak. Tapi suara mereka lebih tinggi dari teriakanku. Aku butuh oksigen. Terlalu pengap disini. Aku terjebak. Ada yang salah denganku. Aku selalu merasa terjebak dimanapun. Aku bingung. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku sudah teriak. Tapi sepertinya...

Monolog Langit

Ayah mengatakan tak ada salahnya sesekali pandangi langit. Kata ayah, langit bukan hanya tempat sekumpulan awan yang menggumpal. Langit bukan hanya perkara musim dan ramalan cuaca. Makna langit lebih dari itu. Karena langit adalah tempat berkumpulnya harapan dan doa. Langit adalah tempat yang sangat amat luas dan kamu tidak akan pernah mengetahui seberapa luas bentangan langit. Bagaimana bisa langit berdiri kokoh tanpa ada penyangga? Aku juga tidak tahu. Mungkin tidak akan sanggup memikirkannya. Aku selalu tersenyum melihat langit. Sepertinya teduh dan damai disana. Langit mengingatkan pada  penantian kesabaran. Karena akan ada hujan setelah kemarau panjang. Langit mengajarkan kesederhanaan.  Karena seluas apapun langit, manusia selalu meninggalkan jejak kakinya di bumi.  Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi  di langit. Yang aku tahu, langit selalu terlihat indah meskipun tanpa bulan dan bintang. Melihat langit seperti melihat kebebasan yang tiada uj...