Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2013

Surat Khusus

Sore ini aku sengaja pergi sendiri ke toko alat  tulis di seberang jalan. Aku berencana membeli kertas, amplop, dan pena. Setelah berkeliling toko, pilihanku jatuh pada beberapa lembar kertas bercorak bunga mawar merah dengan warna peach  sebagai latarnya. Tidak lupa aku sertakan amplop wangi berwarna pink lembut. Warna pastel  adalah warna favoritmu bukan? Aku tahu kamu akan menyukainya. Aku juga akan membeli pena terbaik di toko ini. Pena dengan tinta hitam yang tidak mudah luntur. Aku memang ingin membuat kejutan untukmu melalui tulisan. Apa saja yang ingin aku tulis? Aku menulis semua tentangmu, tentang kita. Tentang kisah manis kita 30 tahun yang lalu di bulan Oktober. Aku tidak menulis secara rinci peristiwa itu. Terlau banyak kertas nanti. Aku rasa mengenang dan menyimpannya serapi mungkin dalam otakku sudah lebih dari cukup. Mungkin kamu juga berpikiran sama. Kisah manis akan selalu terekam dalam memori otak kan? Jadi aku akan menulis bagian – bagian romant...

Prasangka

Senyum simpulku mungkin saja membuatmu melayang. Tuturku membuatmu terkesan. Sorot mata dan kepolosanku bahkan bisa membuatmu terpana. Sayangnya, kamu tidak tahu apa yang ada di hati dan pikiranku. Kamu tidak tahu apa arti di balik senyumanku. Kamu belum paham makna di balik tuturku. Kamu hanya melihat dari apa yang terlihat. Kamu makhluk visual. Bukankah kamu menyukai aku yang sedang menarik perhatianmu?  Apakah kamu menyangka bahwa suatu hari aku akan menjatuhkanmu? Apakah kamu akan mengira aku bisa saja mendorongmu ke jurang? Masihkah kamu terkesan  jika esok hari aku tiba – tiba berteriak persis di belakang telingamu? Sudikah kamu tersenyum jika aku mencacimu di depan orang banyak? Memang, aku sedang bermain drama. Panggung ini menjadi saksi pertunjukan. Aku pemain yang memakai topeng berlapis. Dalam waktu singkat mudah bagiku berganti topeng. Tidak semua senyuman berarti kebahagiaan. Sama halnya tidak semua tangisan berarti kesedihan. Coba tanya dirimu. Mungkin sel...

Dalam Perjalanan

Aku berjalan tanpa alas kaki.  Melewati  padang  ilalang yang dipenuhi dandelion. Lambaian tanganku membuat bunga dandelion itu rapuh. Kelopak halusnya  lepas dan terbang mengikuti arah angin.  Aku terpana melihat perginya bunga – bunga itu. Tuhan menciptakan perpaduan yang pas antara sketsa senja, angin, dan bunga dandelion. Senja menjadi latar yang mampu menghadirkan efek dramatis. Dandelion menjadi tokoh utama. Angin menjadi pengiringnya. Angin seperti menuntun  yang bunga  yang sederhana itu menuju ke sebuah tempat. Dimana bunga itu akan singgah, aku tidak tahu. Mungkin dalam perjalanan terbangnya, bunga itu menemui berbagai hal. Dan pada akhirnya memang misteri. Apakah dandelion itu akan melebur bersama jutaan tetes air hujan? Apakah dandelion akan membaur saat melewati angin gurun? Apa mungkin dandelion dapat bertahan sampai di tempat tujuan? Bahkan dandelion pun tidak paham betul kemana tujuannya. Dandelion hanya pergi mengikuti sebuah kepast...