Prasangka

Senyum simpulku mungkin saja membuatmu melayang. Tuturku membuatmu terkesan. Sorot mata dan kepolosanku bahkan bisa membuatmu terpana. Sayangnya, kamu tidak tahu apa yang ada di hati dan pikiranku. Kamu tidak tahu apa arti di balik senyumanku. Kamu belum paham makna di balik tuturku. Kamu hanya melihat dari apa yang terlihat. Kamu makhluk visual. Bukankah kamu menyukai aku yang sedang menarik perhatianmu? 

Apakah kamu menyangka bahwa suatu hari aku akan menjatuhkanmu? Apakah kamu akan mengira aku bisa saja mendorongmu ke jurang? Masihkah kamu terkesan  jika esok hari aku tiba – tiba berteriak persis di belakang telingamu? Sudikah kamu tersenyum jika aku mencacimu di depan orang banyak?

Memang, aku sedang bermain drama. Panggung ini menjadi saksi pertunjukan. Aku pemain yang memakai topeng berlapis. Dalam waktu singkat mudah bagiku berganti topeng. Tidak semua senyuman berarti kebahagiaan. Sama halnya tidak semua tangisan berarti kesedihan. Coba tanya dirimu. Mungkin selama ini kamu terjebak dalam prasangka.

Terima kasih prasangka. Karenamu aku bisa mencitrakan diriku. Terima kasih kepada manusia prasangka. Karenamu aku tak perlu khawatir harga diriku jatuh. Aku tidak perlu membangun ideal diriku dihadapanmu. Meskipun ada saatnya aku akan mengkhianatimu. Meskipun ada hari dimana aku akan menghujatmu. Meskipun lusa aku akan  menginjakmu. Tenanglah. Kamu tidak perlu takut dan kecewa jika itu benar – benar terjadi. Bersyukurlah kamu. Karena Dia sedang menunjukkan bahwa aku tidak lebih baik darimu.

Lagipula, apa yang kamu harapkan dari makhluk bernama manusia? 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Path