Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2013

Terbang

Aku terbang untuk yang ke sekian Menjauh dari tanah Berpadu dengan angin Melayang riang Hingga lupa daratan Mungkin mabuk pujian Aku terbang untuk yang ke sekian Melambung jauh Tanpa peluh Merasakan semilir Sepertinya terhipnotis Tidak lagi realistis Aku terbang untuk yang ke sekian dan aku takut untuk jatuh (lagi) untuk yang ke sekian Aku butuh Tuhan PS. Kalau sudah terbang biasanya lupa kalau sewaktu - waktu (bisa) jatuh. Kapanpun kamu terjatuh, Dia siap memelukmu.

Di Ujung Jalan

Di ujung jalan ini, aku mengamatimu. Kamu yang selalu duduk di bangku taman baris kedua dari kanan. Kamu yang selalu membawa novel, buku, dan pena. Kamu yang selalu mengenakan gelang perak di tangan kanan. Kamu yang selalu membawa sebungkus roti cokelat. Kamu yang selalu tertawa saat membaca novel.  Kamu yang selalu menulis, entah tentang apa. Kamu yang selalu  tersenyum saat melihat awan. Kamu yang selalu meninggalkan bangku taman menjelang senja. Kamu yang selalu aku tunggu. Di ujung jalan ini, aku menatapmu. Mataku selalu mengawasimu. Memperhatikan langkahmu. Memandang dari jauh.  Menikmati melalui jarak tertentu. Tidak perlu mendekat. Aku takut. Terlalu pengecut memang. Menurutku, ini sudah lebih dari cukup. Tanpa perlu menyapamu. Tanpa perlu tahu siapa namamu. Tanpa perlu tahu bagaimana kamu. Tanpa perlu tahu masa lalumu. Tanpa perlu menerjemahkan perasaanku. Tanpa perlu kamu tahu. Di ujung jalan ini, aku bertanya dalam hati. Apa yang sedang terjadi padaku? ...

Diam

Aku butuh waktu untuk diam. Berlama – lama di kegelapan. Memejamkan mata dan menghirup udara malam. Menikmati setiap tarikan dan hembusan nafas. Menenangkan jiwa yang berontak. Melepaskan prasangka buruk. Mencoba berdamai dengan dunia. Aku butuh waktu untuk diam. Hanya mengamati. Tidak ingin banyak berkata. Tidak ada yang perlu disampaikan. Karena memang tidak butuh penjelasan. Cukup mata yang melihat. Telinga yang mendengar. Otak yang berpikir. Hati yang merasakan. Aku butuh waktu untuk diam. Bahkan cenderung apatis. Sedang tidak ingin kritis. Tidak tahu sampai kapan. Mungkin sampai aku mencapai ketenangan, dalam sebenar – benarnya diam. Karena dalam diamku, Kau pun sudah tahu. Bukan begitu?