Dalam Perjalanan
Aku berjalan tanpa alas kaki. Melewati padang ilalang yang dipenuhi dandelion. Lambaian tanganku membuat bunga dandelion itu rapuh. Kelopak halusnya lepas dan terbang mengikuti arah angin. Aku terpana melihat perginya bunga – bunga itu. Tuhan menciptakan perpaduan yang pas antara sketsa senja, angin, dan bunga dandelion. Senja menjadi latar yang mampu menghadirkan efek dramatis. Dandelion menjadi tokoh utama. Angin menjadi pengiringnya. Angin seperti menuntun yang bunga yang sederhana itu menuju ke sebuah tempat. Dimana bunga itu akan singgah, aku tidak tahu. Mungkin dalam perjalanan terbangnya, bunga itu menemui berbagai hal. Dan pada akhirnya memang misteri. Apakah dandelion itu akan melebur bersama jutaan tetes air hujan? Apakah dandelion akan membaur saat melewati angin gurun? Apa mungkin dandelion dapat bertahan sampai di tempat tujuan? Bahkan dandelion pun tidak paham betul kemana tujuannya. Dandelion hanya pergi mengikuti sebuah kepastian.
Ah iya.. aku hampir lupa kemana tujuanku selanjutnya. Setelah padang ilalalng, bisa saja aku melangkah santai menyusuri pantai. Atau mungkin aku terjebak di belantara. Atau berenang membelah samudera.Tidak ada yang tahu. Aku hanya mencoba menikmati perjalananku. Aku berusaha menggunakan akal dan meredam egoku. Mempersiapkan bekal terbaik sambil memperhatikan sandi – sandi alam. Mempertajam mata batin dan mengasah intuisi. Mengatur strategi sembari maksimalkan logika berdasarkan realita. Sesekali aku harus merefleksi diri jika aku tersesat atau kehilangan arah. Aku kebingungan menentukan jalan setapak yang akan aku pilih. Konspirasi semesta bisa saja mencoba menggelincirkan aku ketika aku beristirahat di tepi jurang. Dan disaat hampir jatuh aku pasti menangis. Di titik itu seperti ada kekuatan lain yang membuat aku tegar dan mantap dalam melanjutkan perjalanan. Bagaimana akhir dari perjalanan itu tidak ada yang tahu. Tidak ada yang bisa menjamin. Ya, aku memang seperti dandelion yang berada pada perjalanan. Perjalanan menuju sepetak tanah.
Komentar