Postingan

Surat Khusus

Sore ini aku sengaja pergi sendiri ke toko alat  tulis di seberang jalan. Aku berencana membeli kertas, amplop, dan pena. Setelah berkeliling toko, pilihanku jatuh pada beberapa lembar kertas bercorak bunga mawar merah dengan warna peach  sebagai latarnya. Tidak lupa aku sertakan amplop wangi berwarna pink lembut. Warna pastel  adalah warna favoritmu bukan? Aku tahu kamu akan menyukainya. Aku juga akan membeli pena terbaik di toko ini. Pena dengan tinta hitam yang tidak mudah luntur. Aku memang ingin membuat kejutan untukmu melalui tulisan. Apa saja yang ingin aku tulis? Aku menulis semua tentangmu, tentang kita. Tentang kisah manis kita 30 tahun yang lalu di bulan Oktober. Aku tidak menulis secara rinci peristiwa itu. Terlau banyak kertas nanti. Aku rasa mengenang dan menyimpannya serapi mungkin dalam otakku sudah lebih dari cukup. Mungkin kamu juga berpikiran sama. Kisah manis akan selalu terekam dalam memori otak kan? Jadi aku akan menulis bagian – bagian romant...

Prasangka

Senyum simpulku mungkin saja membuatmu melayang. Tuturku membuatmu terkesan. Sorot mata dan kepolosanku bahkan bisa membuatmu terpana. Sayangnya, kamu tidak tahu apa yang ada di hati dan pikiranku. Kamu tidak tahu apa arti di balik senyumanku. Kamu belum paham makna di balik tuturku. Kamu hanya melihat dari apa yang terlihat. Kamu makhluk visual. Bukankah kamu menyukai aku yang sedang menarik perhatianmu?  Apakah kamu menyangka bahwa suatu hari aku akan menjatuhkanmu? Apakah kamu akan mengira aku bisa saja mendorongmu ke jurang? Masihkah kamu terkesan  jika esok hari aku tiba – tiba berteriak persis di belakang telingamu? Sudikah kamu tersenyum jika aku mencacimu di depan orang banyak? Memang, aku sedang bermain drama. Panggung ini menjadi saksi pertunjukan. Aku pemain yang memakai topeng berlapis. Dalam waktu singkat mudah bagiku berganti topeng. Tidak semua senyuman berarti kebahagiaan. Sama halnya tidak semua tangisan berarti kesedihan. Coba tanya dirimu. Mungkin sel...

Dalam Perjalanan

Aku berjalan tanpa alas kaki.  Melewati  padang  ilalang yang dipenuhi dandelion. Lambaian tanganku membuat bunga dandelion itu rapuh. Kelopak halusnya  lepas dan terbang mengikuti arah angin.  Aku terpana melihat perginya bunga – bunga itu. Tuhan menciptakan perpaduan yang pas antara sketsa senja, angin, dan bunga dandelion. Senja menjadi latar yang mampu menghadirkan efek dramatis. Dandelion menjadi tokoh utama. Angin menjadi pengiringnya. Angin seperti menuntun  yang bunga  yang sederhana itu menuju ke sebuah tempat. Dimana bunga itu akan singgah, aku tidak tahu. Mungkin dalam perjalanan terbangnya, bunga itu menemui berbagai hal. Dan pada akhirnya memang misteri. Apakah dandelion itu akan melebur bersama jutaan tetes air hujan? Apakah dandelion akan membaur saat melewati angin gurun? Apa mungkin dandelion dapat bertahan sampai di tempat tujuan? Bahkan dandelion pun tidak paham betul kemana tujuannya. Dandelion hanya pergi mengikuti sebuah kepast...

Berdua

Malam ini sama seperti malam kemarin. Hanya ada suara gemericik air di taman belakang rumah. Langit  tidak menampakkan purnamanya. Ada satu, dua, atau tiga bintang yang terlihat. Entahlah aku tidak begitu jelas mengamatinya. Rasanya warna langit malam ini terlalu gelap. Sayangnya, aku tidak ingin tidur. Aku takut mataku terpejam. Secangkir kopi mungkin cukup membuatku bertahan semalaman. Pikiranku memang penat. Hatiku lelah dengan segala prasangka. Tapi aku harap malam ini aku tidak bisa tidur. Aku ingin terjaga. Aku harap ini malam yang panjang. Bukannya aku tidak ingin bertemu pagi. Aku khawatir pagi tidak sehening malam ini. Tidak ada suara. Sunyi dan damai. Karena pagi ramai dengan manusia. Mereka sibuk dengan urusan masing masing. Lagipula, sinar matahari pagi terlalu menyilaukan bagiku. Meskipun aku sadar, datangnya pagi adalah sebuah kepastian. Sudahlah, pagi masih ada beberapa jam lagi. Yang jelas aku tidak ingin melewatkan malam ini. Malam ini memang sama sep...
Gambar
Mungkin kamu pernah terdampar di sebuah pulau yang tidak pernah kamu harapkan untuk singgah. Tapi Tuhan berkehendak lain. Dia mengajarkan kamu bagaimana caranya agar tetap bertahan di pulau tersebut. Butuh waktu bertahun - tahun untuk memahami. Hingga pada akhirnya kamu mulai menikmati kehidupan di pulau itu. Melebur dengan penduduknya. Mempelajari bahasanya. Beradaptasi dengan lingkungannya. Dan disaat kamu mulai merasa nyaman berada disana. Kamu ingat bahwa kamu harus pulang. Cita - cita jadi arsitek, interior desainer, dan pelukis yang tertunda

Terjebak

Aku berjalan sendiri. Menyusuri lorong sunyi dan gelap. Cahaya bulan sedikit menemani. Meskipun tidak begitu membantu. Aku benar - benar sendiri. Hanya meraba dinding lorong. Berharap aku tidak terjatuh. Aku ingin mencoba berlari. Tapi aku khawatir terperosok. Aku ingin teriak. Tidak ada manusia yang mendengar. Aku tercekat dan berhenti bernafas. Tapi jantungku masih berdetak. Aku terjebak. Aku berjalan sendiri. Berkeliling pasar malam. Sorot lampu memenuhi sudut. Sungguh ramai sekali. Ratusan manusia berkumpul pada satu tempat. Suara bising, dentuman musik, lagu, apapun itu. Terasa memekakkan telinga. Banyak orang bicara. Mereka tertawa lepas. Berisik sekali. Aku tenggelam dan ingin keluar dari kerumunan. Aku ingin teriak. Tapi suara mereka lebih tinggi dari teriakanku. Aku butuh oksigen. Terlalu pengap disini. Aku terjebak. Ada yang salah denganku. Aku selalu merasa terjebak dimanapun. Aku bingung. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku sudah teriak. Tapi sepertinya...

Monolog Langit

Ayah mengatakan tak ada salahnya sesekali pandangi langit. Kata ayah, langit bukan hanya tempat sekumpulan awan yang menggumpal. Langit bukan hanya perkara musim dan ramalan cuaca. Makna langit lebih dari itu. Karena langit adalah tempat berkumpulnya harapan dan doa. Langit adalah tempat yang sangat amat luas dan kamu tidak akan pernah mengetahui seberapa luas bentangan langit. Bagaimana bisa langit berdiri kokoh tanpa ada penyangga? Aku juga tidak tahu. Mungkin tidak akan sanggup memikirkannya. Aku selalu tersenyum melihat langit. Sepertinya teduh dan damai disana. Langit mengingatkan pada  penantian kesabaran. Karena akan ada hujan setelah kemarau panjang. Langit mengajarkan kesederhanaan.  Karena seluas apapun langit, manusia selalu meninggalkan jejak kakinya di bumi.  Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi  di langit. Yang aku tahu, langit selalu terlihat indah meskipun tanpa bulan dan bintang. Melihat langit seperti melihat kebebasan yang tiada uj...