Postingan

Nyatanya

Secangkir kopi sore tadi membuatku masih terjaga malam ini. Aku tidak tega mengistirahatkan otakku yang sebenarnya lelah. Mata ini sungguh terlalu, membiarkan pemiliknya betah menulis di layar komputer semalaman. Ah… benar sekali katamu. Bahwa kopi adalah minuman candu, layaknya canduku pada musim hujan dan wangi keduanya. Katamu kau ingin main hujan, nyatanya saat hujan turun kau sembunyi dibalik payung. Kataku kau harus berhenti minum kopi, nyatanya kau malah memberi segelas es kopi yang kita minum berdua. Hanya menyeruput, katamu. Ya, nyatanya kita memang terlalu banyak berencana atas hal, yang nyatanya belum bisa kita lakukan. Sama seperti sore tadi. Katanya kita akan berpisah dan saling mengucapkan selamat tinggal. Nyatanya dua cangkir kopi terlanjur dingin, obrolan kita menghangat, dan hujan masih turun di luar kedai.  Masihkah bertahan dengan katanya? Sementara nyatanya berbeda?

Catatan Hati Seorang Nona

Sudah terlalu lama sendiri... sudah terlalu lama aku asyik sendiriLama tak ada yang menemani...  Penggalan  lirik lagu mas Kunto Aji yang berjudul “Terlalu Lama Sendiri”  ini mungkin ngena banget di hati para single fighter baca : jomblo seluruh dunia. Kalo saya mah nggak ngerasa jomblo, cuma sendirian, jadi  santai aja kayak di pantai. Tapi kalau boleh jujur, lagu itu emang asik sebagai bahan refleksi diri, sambil bercermin dan berbisik kepada angin, “Oh iya, baru inget ternyata aku lama asik sendiri, padahal muka kan uda mirip sama Alyssa Soebandono kasinoindro ” *kemudian cermin menangis dan retak* Entah kenapa masih banyak orang yang masih mempertanyakan status sendirian di usia yang terlanjur matang. Mungkin itulah orang yang peduli atau lebih tepatnya mau tau urusan orang atau  mungkin sekedar basa dan basi.  Alkisah, saya seorang  Nona yang kurang tidur sehingga di lingkaran matanya menghitam  bekas perjuangan sedari jaman or...

Terima Kasih

Terima kasih, telah membuatku menjadi istimewa Terima kasih, telah membuat tertawa lepas Terima kasih, telah membuatku seperti melihat masa depan Terima kasih, telah membuatku bahagia dengan caramu Terima kasih, membuatku memahami dunia yang konyol namun begitu indah Terima kasih, telah membuatku tertawa sekaligus menangis Terima kasih pada gerimis, yang menggantikan air mata Terima kasih pada pelangi, yang menyiratkan keindahan selepas hujan Dan beribu terima kasih, kepada Tuhan, telah menciptakan pertemuan Yang kemudian menyadarkanku Untuk menumbuhkan harap, hanya kepada Mu

Terjebak (Lagi)

Aku berhati - hati dalam perjalanan. Menikmati setapak demi setapak langkah. Berusaha untuk berpikir jernih. Menyeimbangkan logika dan perasaan. Agar tidak tersesat sampai tujuan. Aku sudah berhati - hati. Sampai tiba saatnya aku terlena. Terpukau oleh sebuah tempat. Aku tidak tahu dimana keistimewaan tempat itu. Seperti sebuah oase di tengah gurun pasir. Aku tidak sedang kehausan. Aku juga tidak lelah. Tapi aku berhenti disini. Tempat itu memang harus dilewati. Aku tidak lagi berhati - hati. Ya, karena aku sudah terjebak. Ingin rasanya menjauh dan berlari sekuat tenaga. Mencari pertolongan. Padahal banyak tempat lain yang harus aku singgahi. Yang mungkin lebih baik dari tempat ini. Tapi aku tidak tahu caranya beranjak pergi. Kini, bagaimana lagi harus berhati - hati? Sedangkan hatiku di sini.

Kita

Kita adalah sekumpulan rintik hujan Yang begitu rindu membasahi bumi Namun kemarau menahannya Kita adalah lapisan pelangi Yang sangat ingin menghiasi langit Namun hujan belum juga reda Kita adalah aliran sungai Yang akan bermuara di laut Namun bebatuan membuatnya berkelok Kita adalah para pendaki Yang menantikan fajar di puncak gunung Namun hutan menyembunyikan jalan setapak menuju kesana Kita mungkin bagian dari masa lalu Yang sedang mempersiapkan masa depan Namun Tuhan menghendaki kita untuk bersabar Kita adalah kamu dan aku

Catatan Hati Seorang Blogger

Hai fans... Lama juga ya nggak nulis di blog kawe ini. Iya nih, saya memang sengaja menyibukkan diri mengikuti dinamika politik di Indonesia (Songong mode on. Bedewe, dinamika siapanya dinamo?). Selain saya sibuk dengan beberapa urusan nggak penting, sebenarnya ada satu hal yang cukup menyita waktu, tenaga, dan pikiran sehingga lama tidak mengupdate tulisan di blog yang priceless ini. Yaitu masalah negara. Sebagai pengamat politik amatiran dan karbitan, saya akui serunya perebutan kursi presiden dan wakil presiden periode 2014 – 2019. Seru, lucu, terharu, sedih, bahagia, dan eneg... itulah gambaran perasaan saya selama nonton perebutan kursi orang nomer satu dan dua di Indonesia. Tapi sebenarnya diantara Pak Prabowo dan Pak Jokowi  tidak ada yang klik di hati saya. Seperti yang dikatakan oleh seorang teman sesama mahasiswa (dulu pas saya masih kuliah, sekarang alhamdulillah masih kuliah kehidupan) sebut saja Mawar, yang memberikan kata mutiara, “Memilih presiden tidak hanya me...

Random (Lagi)

Saya adalah salah satu dari banyak orang yang beruntung pernah menjadi mahasiswa keperawatan. Ya... meskipun ke depan belum tentu jadi perawat, saya senang kuliah disana. Banyak hal yang saya pelajari selama menjadi mahasiswa keperawatan. Bukan karena mata kuliahnya yang membosankan, tapi teman – teman dan lingkungan yang menyenangkan. Saya sadar sih, saya bukan mahasiswa pintar. Tidak banyak prestasi yang saya torehkan selama bangku perkuliahan, hahaha. Saya lebih suka di ruang perpustakaan daripada di kelas. Bukaaannnn bukan buat baca buku... tapi numpang ngadem sama numpang tidur siang disana, hahaha.  Satu hal yang paling saya syukuri adalah saya masih jadi wanita yang orientasi seksualnya normal. Saya masih suka sama laki – laki, hahahaha. Tau sendiri kuliah di keperawatan kebanyakan isinya cewek. Jadi kalau saya disuruh pergi ke fakultas lain, terutama fakultas teknik saya selalu semangat soalnya bisa cuci mata. Dari sekian praktik klinik yang dilalui saya paling senang...