Nyatanya
Secangkir kopi sore tadi membuatku masih terjaga malam ini. Aku tidak tega mengistirahatkan otakku yang sebenarnya lelah. Mata ini sungguh terlalu, membiarkan pemiliknya betah menulis di layar komputer semalaman.
Ah… benar sekali katamu. Bahwa kopi adalah minuman candu, layaknya canduku pada musim hujan dan wangi keduanya. Katamu kau ingin main hujan, nyatanya saat hujan turun kau sembunyi dibalik payung. Kataku kau harus berhenti minum kopi, nyatanya kau malah memberi segelas es kopi yang kita minum berdua. Hanya menyeruput, katamu.
Ya, nyatanya kita memang terlalu banyak berencana atas hal, yang nyatanya belum bisa kita lakukan. Sama seperti sore tadi. Katanya kita akan berpisah dan saling mengucapkan selamat tinggal. Nyatanya dua cangkir kopi terlanjur dingin, obrolan kita menghangat, dan hujan masih turun di luar kedai.
Masihkah bertahan dengan katanya? Sementara nyatanya berbeda?
Ah… benar sekali katamu. Bahwa kopi adalah minuman candu, layaknya canduku pada musim hujan dan wangi keduanya. Katamu kau ingin main hujan, nyatanya saat hujan turun kau sembunyi dibalik payung. Kataku kau harus berhenti minum kopi, nyatanya kau malah memberi segelas es kopi yang kita minum berdua. Hanya menyeruput, katamu.
Ya, nyatanya kita memang terlalu banyak berencana atas hal, yang nyatanya belum bisa kita lakukan. Sama seperti sore tadi. Katanya kita akan berpisah dan saling mengucapkan selamat tinggal. Nyatanya dua cangkir kopi terlanjur dingin, obrolan kita menghangat, dan hujan masih turun di luar kedai.
Masihkah bertahan dengan katanya? Sementara nyatanya berbeda?
Komentar