Catatan Hati Seorang Nona

Sudah terlalu lama sendiri... sudah terlalu lama aku asyik sendiriLama tak ada yang menemani... 

Penggalan  lirik lagu mas Kunto Aji yang berjudul “Terlalu Lama Sendiri”  ini mungkin ngena banget di hati para single fighter baca : jomblo seluruh dunia. Kalo saya mah nggak ngerasa jomblo, cuma sendirian, jadi  santai aja kayak di pantai. Tapi kalau boleh jujur, lagu itu emang asik sebagai bahan refleksi diri, sambil bercermin dan berbisik kepada angin, “Oh iya, baru inget ternyata aku lama asik sendiri, padahal muka kan uda mirip sama Alyssa Soebandonokasinoindro” *kemudian cermin menangis dan retak*

Entah kenapa masih banyak orang yang masih mempertanyakan status sendirian di usia yang terlanjur matang. Mungkin itulah orang yang peduli atau lebih tepatnya mau tau urusan orang atau  mungkin sekedar basa dan basi. 

Alkisah, saya seorang  Nona yang kurang tidur sehingga di lingkaran matanya menghitam  bekas perjuangan sedari jaman orde baru, ingin ngopi ngopi cantik di sebuah kafe yang tidak jauh dari kampus di pinggiran kota. Dia sengaja pergi ke kafe saat matahari mulai terbenam,  agar wajahnya yang berjerawat tidak dilihat orang. Nona itu bukan tak ada teman. Hanya sedang ingin menyendiri. Setelah sampai dan melihat daftar menu dan harga yang pas dengan kantong, akhirnya dia memutuskan memesan segelas air rasa capuccino, sepiring  ketan  keju, dan seporsi leker. Sebenarnya Nona itu ingin menambah beberapa pesanan. Tapi karena alasan kesehatan baca : diet  ia urungkan niatnya.  Setelah pesanan datang, Nona tersebut tidak segan untuk menandaskan apa yang ada di piring. Sambil sesekali memperhatikan meja meja pelanggan  lain. Siapa tau ada makanan yang sisa di piring bisa Nona bungkus buat oleh – oleh.  Perut kenyang, piring dan gelas bersih, tibalah saat pembayaran.

Nona :” Berapa Mbak?”
Si Mbak :” Sekian mbak”  *Maaf  harga disamarkan karena menyangkut harga diri bro*
Nona : *Buka dompet. Alhamdulillah ada duit. Mengurungkan  niat untuk menggadaikan KTP. Senyum mengembang ceria*
Si Mbak : “Makasih  Mbak. Kok sendirian aja Mbak?”
Nona : *Grogi* “Ketannya enak Mba. Saya jarang main di sini. Biasanya main di sebelah sana. Makasih ya Mbak.” *Balik kanan. Pakai kaca mata hitam. Melihat bintang bintang*

Oke, mungkin si Mbak sekadar basa basi. Bingung juga mau kasih closing statement apa ke customer seperti Nona . Jadi si Mbak bertanya seperti  itu. Oke Mbak dimaafkan.

Sebenarnya masih banyak kejadian kejadian serupa yang ingin Nona ceritakan perihal kesendirian. Tapi karena pemilihan presiden masih lama, jadi dia tidak ingin banyak cerita.

Hikmah yang bisa diambil dari kejadian diatas adalah sedia payung sebelum hujan. Hujan itu seperti hati wanita yang tidak bisa dipastikan keadaannya, kadang sedih, kadang riang *duh*.  Maksudnya, kita tidak bisa memprediksikan apa yang akan diutarakan orang lain kepada kita. Jadi, ada baiknya mempersiapkan hati dan telinga untuk menerima segala  macam  kemungkinan  (termasuk kemungkinan terburuk) dari orang lain. Jangan mudah tersinggung. Ini sebenarnya tergantung pembawaan diri sih. Kalau orangnya cuek dan muka tembok macam  saya santai aja, asik asik aja. Tapi kalau orangnya sensitif  mungkin udah bilang gini ke mbaknya :

“Oke, cukup tau ya mba. Emang kalau sendirian kenapa? Kucing tetangga saya masih sendiri. Kemarin saya jalan ke pasar lihat ada ayam jalan – jalan sendiri. Bulan di langit juga sendirian mba. Terus salah saya? Salah teman teman saya? Salah Rhoma Irama? Saya mau pindah tempat nongkrong. Fix.”

Mungkin itu perempuan itu lagi PMS. Jadi marah – marah. Pakai bawa – bawa nama Bang Haji. Sabar ya Bang Haji !

Well, maaf  ya teman, random banget ceritanya. Maklum Jakarta banjir.

Buat yang sedang menanti dalam kesendirian, jaga dirimu baik – baik. Manfaatkan kesendirianmu dengan baik. Buat yang sudah tidak sendiri, jaga pasangan anda baik – baik, jaga hati mereka yang masih sendiri. Oh iya, tambahan buat yang masih sendirian, ada nasihat paling manjur dalam mengobati kesendirian : sabar.

Kamu nggak sendirian. Tuhan  kan selalu ada buat kamu kapanpun, dimanapun. Buruan gih deketin Tuhan :)
 *******

*Penulis sedang dalam keadaan sehat lahir batin. Tulisan ini bukan curhatan. Hanya opini penulis belaka melalui pengamatan fenomena sosial.*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Path