Postingan

Random (Lagi)

Saya adalah salah satu dari banyak orang yang beruntung pernah menjadi mahasiswa keperawatan. Ya... meskipun ke depan belum tentu jadi perawat, saya senang kuliah disana. Banyak hal yang saya pelajari selama menjadi mahasiswa keperawatan. Bukan karena mata kuliahnya yang membosankan, tapi teman – teman dan lingkungan yang menyenangkan. Saya sadar sih, saya bukan mahasiswa pintar. Tidak banyak prestasi yang saya torehkan selama bangku perkuliahan, hahaha. Saya lebih suka di ruang perpustakaan daripada di kelas. Bukaaannnn bukan buat baca buku... tapi numpang ngadem sama numpang tidur siang disana, hahaha.  Satu hal yang paling saya syukuri adalah saya masih jadi wanita yang orientasi seksualnya normal. Saya masih suka sama laki – laki, hahahaha. Tau sendiri kuliah di keperawatan kebanyakan isinya cewek. Jadi kalau saya disuruh pergi ke fakultas lain, terutama fakultas teknik saya selalu semangat soalnya bisa cuci mata. Dari sekian praktik klinik yang dilalui saya paling senang...

Random

Dear Raisha.. Apa kabar Icha ndut kamu disana? Long time no see ... kangen nih sama kamu, lama gak ketawa bareng, nyanyi – nyayi bareng,hahaha. Tumben ya aku kirim surat ke kamu. Iya nih lagi pengen jadi manusia jadul. Walaupun sekarang musim email, facebook, BBM, dan kawan – kawannya, surat itu media pesan yang paling romantis loh. Biasanya aku kirim surat ke orang yang spesial. Kamu kan spesial buat aku hahaha (tuh kan.. aku gombal sama kamu). Icha yang punya tahi lalat di idung, uda berapa lama ya gak kontak. Lama banget. Aku sampe hampir lupa kalo punya temen kamu. hahaha. Cha, aku ajak nge galau bentar ya. Flashback dikit masa lalu kita. Eh, tau istilah galau gak? Kamu pasti gak tahu sama istilah galau. Kamu kan gak gaul kayak aku. Aku sekarang anak gaul loh, meskipun aku uda gak main lagi sama kamu. Aku ngeksis di dunia maya dan dunia fana, hahaha. Eniwei.. masih ingat gak acara buka puasa bersama semasa kelas 2 SMP yang gilak abis? Waktu itu kamu kelihatan cantik pak...

Pilihan

Masih ingat tentang teori sperma dan ovum? Kita manusia yang sudah lahir ke muka bumi adalah hasil perjuangan satu sel sperma diantara banyak sel sperma yang menuju ovum. Kita yang lahir di dunia ini adalah manusia pilihan-Nya.   Sebenarnya dari awal hidup kita tidak terlepas dari pilihan, memilih, dan dipilih. Akal dan hati adalah faktor yang mempengaruhi pilihan manusia. Dan memang tidak mudah dalam memilih. Apapun. Bagaimana dengan penyesalan? Penyesalan adalah konsekuensi logis dalam sebuah pilihan.  Apapun pilihan yang kamu hadapi, semoga kamu memilih tidak hanya menggunakan logika akal, tetapi juga dengan hati. Coba tanyakan hati kecilmu, apa yang sebenarnya kamu butuhkan. Apa yang membuat hatimu merasa nyaman dan tentram. Jujur pada diri sendiri itu perlu. Dan ketika kita sudah menentukan pilihan, kita harus siap menghadapi konsekuensinya. Kalau kita kecewa dengan pilihan? Kecewa itu hal yang wajar. Tapi kita harus berani untuk kecewa. Jangan lupa...

Jadi, Kapan?

Tulisan ini saya muat terinspirasi dari pengalaman lingkungan sekitar (dan saya pribadi). Cerita  1 Suatu hari di siang bolong,  nggak ada angin nggak ada hujan, Kaprodi saya tiba – tiba mengejutkan saya. Ibu Kaprodi : “Gimana Mba? Kapan nikah?” Me :”Hah? (kaget, terperanjat, terkejut, terkesima, terharu) saya... mm kapan ya bu? Sama siapa bu? Belum tau bu, hehehe..” Si Ibu : “Ya... jangan lama – lama Mba. Mumpung masih muda. Habis lulus nikah dulu...habis itu baru kerja atau sekolah lagi.” Me : “Iya bu. Doain aja, hehehe...” (saya nyengir kuda, kemudian lari lari sambil nangis) Bu, hal itu tidak semudah membalikkan telapak kaki kuda . Cerita 2 Ada pertanyaan dari adik kelas yang rese perhatian dan unyu banget. Si adek : “Mba... kapan nikahnya?” Me : “Pengennya segera dek, ntar lagi nyari di toko bangunan. Siapa tau nemu.” Adek :”Si Embak mah sukanya becanda...” Pas itu saya lagi bikin skripsi dan belum kelar. Mungkin kalau saya dilamar saa...

Rumah

Suatu saat nanti (entah kapan), aku ingin punya rumah sendiri. Rumah mungil dengan halaman belakang yang luas. Di halaman itu, akan kutanami berbagai macam bunga. Mawar, kenanga, bougenville , dan masih banyak lagi. Membayangkan halaman rumah dipenuhi segala macam warna bunga saja membuatku tersenyum bahagia. Pasti akan indah dan nyaman sekali disana. Rasanya tidak sabar ingin segera mewujudkannya. Suatu hari nanti (entah kapan), aku ingin rumah yang sederhana saja. Rumah di pedesaan yang dipenuhi dengan pepohonan. Rumah dengan desain interior yang tidak menguras kantong. Rumah yang dipenuhi jendela, agar angin dan sinar matahari dapat masuk. Tentunya membuat para penghuni betah berlama – lama di rumah. Rumah yang dapat membuatku (dan keluargaku, nanti) semakin bersyukur kepada – Nya. Rumah yang menjadi keberkahan untuk kami. Suatu hari nanti (entah kapan), aku ingin rumah yang baik lingkungannya. Tidak perlu perumahan cluster  yang membuatku (dan keluargaku, nanti) menjadi...

Mencari

Seharian aku berkeliling tempat ini mencarinya. Tiap sudut aku periksa dengan cermat. Bahkan tempat gelap  sekalipun. Tetap saja nihil. Aku sudah bertanya kesana kemari. Tidak ada yang tahu pasti. Aku resah. Waktu terus berlari. Detik berganti menit. Menit berganti jam. Jam berganti hari. Begitu seterusnya. Konsentrasiku buyar. Keringatku mulai bercucuran. Aku panik. Nafasku tersengal. Mataku basah. Aku mulai menarik nafas dalam dan panjang. Aku pejamkan mata. Berusaha merasakan hembusan angin, yang lembut menyentuh kulit. Saat aku membuka mata. Aku melihat ke langit kosong. Apa yang sebenarnya sedang aku cari? Orang – orang itu memaksaku terus mencari. Padahal aku tidak tahu apa yang sedang aku cari. Mereka bilang ,“Cari pundi – pundi di atas bara! Kamu bisa menggunakannya.” Berarti aku harus siap dengan rasa panas di telapak kakiku yang melepuh. Sebagian dari mereka berteriak, “Coba kamu lihat di balik gunung itu! Banyak batu bernilai. Kamu bisa menjualnya.” Artin...

Sajak Detik

Sepersekian detik ini ada yang lahir dan mati Sepersekian detik ini ada yang kelaparan dan kekenyangan Sepersekian detik ini ada yang tidur dan terjaga Sepersekian detik ini ada sehelai daun jatuh Tidak ada satu detik pun terlewatkan oleh Mu Kau pun tahu Sepersekian detik yang lampau Aku bertemu Aku bahagia Sepersekian detik yang lampau Aku berpisah Aku kecewa Sepersekian detik ini Aku tidak ingin menangis