Rumah
Suatu saat nanti (entah kapan), aku ingin
punya rumah sendiri. Rumah mungil dengan halaman belakang yang luas. Di halaman
itu, akan kutanami berbagai macam bunga. Mawar, kenanga, bougenville, dan masih banyak lagi. Membayangkan halaman rumah
dipenuhi segala macam warna bunga saja membuatku tersenyum bahagia. Pasti akan indah
dan nyaman sekali disana. Rasanya tidak sabar ingin segera mewujudkannya.
Suatu hari nanti (entah
kapan), aku ingin rumah yang sederhana saja. Rumah di pedesaan yang dipenuhi
dengan pepohonan. Rumah dengan desain interior yang tidak menguras kantong.
Rumah yang dipenuhi jendela, agar angin dan sinar matahari dapat masuk. Tentunya
membuat para penghuni betah berlama – lama di rumah. Rumah yang dapat membuatku
(dan keluargaku, nanti) semakin bersyukur kepada – Nya. Rumah yang menjadi
keberkahan untuk kami.
Suatu hari nanti (entah
kapan), aku ingin rumah yang baik lingkungannya. Tidak perlu perumahan cluster yang membuatku (dan keluargaku, nanti) menjadi
penghuni eksklusif. Menjadi manusia apatis yang tidak kenal kiri kanan. Menjadi individualis. Aku ingin pagi hari yang
penuh dengan keramahan tetangga. Siang hari yang diselingi canda tawa anak –
anak tetangga yang bermain. Malam hari diisi oleh rombongan orang – orang yang
hendak solat berjamaah di masjid. Mereka adalah tetangga yang saling menjaga.
Tidak merugikan satu sama lain. Sungguh lingkungan yang menjadikanku makhluk sosial.
Tunggu. Ada hal yang terlewatkan.
Aku lupa membicarakan rumahku yang sesungguhnya. Rumah terakhirku yang benar –
benar sederhana. Rumah yang berukuran 2,5 x 1,5 m diatas sebidang tanah merah. Rumah
yang akan kutinggali seorang diri. Tanpa seorangpun selain aku disana. Rumahku
yang entah akan seperti apa di dalamnya. Aku harap rumahku nanti baik – baik saja.
Semoga.
Komentar