Saya menulis karena saya ingin. Jika tulisan ini dibaca -oleh orang yang saya maksud- itu menjadi sebuah keajaiban Tuhan, karena pesan saya tersampaikan.
Seringkali saya melakukan kesalahpahaman berulang, dengannya, orang yang sama.
Dia teman yang baik. Dia bukan teman yang sempurna. Saya juga banyak kekurangan. Dia bisa membuat saya melihat sesuatu, secara divergen dan spontan. Amat berkebalikan dengan saya yang pada dasarnya penakut, pemalu, cenderung menutup diri. Seperti melihat diri saya yang lain -sisi yang selama ini saya sembunyikan- hanya di raga yang berbeda. Saya tidak tahu bagaimana mendeskripsikannya. Terlalu takut dan berhati - hati untuk mengungkapkan, "Bolehkah saya berteman denganmu?". Ya, nyatanya memang kita berteman.
Namun, ada hal - hal yang sebenarnya khawatir saya ungkapkan, takut menimbulkan perdebatan. Ini berhubungan dengan nilai - nilai yang sudah saya anut dan saya coba pegang teguh selama sekian tahun. Banyak hal yang membuat kita berselisih paham, tidak tahu bagaimana menyelesaikan. Dan akhirnya, kita menjalani hidup masing - masing.
"Texting is a brilliant way to miscommunicate how you feel and misinterpret what other people mean.."-anonymous
Saya menyesal karena pernah menolak bertemu dengannya enam tahun yang lalu. Menolak bertatap muka dan berbincang secara langsung. Saya dan dia memang jarang bertemu. Hanya sekelebatan. Padahal dia hanya ingin bicara, mungkin dia ingin menjelaskan yang memang perlu dijelaskan. Saya menjadi kaku. Ego saya bermain saat itu. Percakapan kita sebatas tekstual dan via telepon. Tanpa melihat ekspresi, raut wajah, gesture. Dimana beberapa hal tersebut, menurut saya, sebenarnya sangat diperlukan agar bisa berkomunikasi secara efektif.
Dan saya menyesal.
Kemudian dia datang lagi. Saya masih takut, namun saya lebih siap untuk berkomunikasi lebih baik lagi, versi saya. Saya mencoba untuk berani menunjukkan kelemahan saya, mengungkapkan alasan kenapa dulu saya begitu. Saya tidak berharap banyak dari kedatangannya. Hanya ingin memperbaiki apa yang dulu belum sempat diperbaiki.
Saya berharap saya bisa bertatap muka dengannya. Bukan untuk mencapai kesepakatan. Bukan untuk menarik perhatian lewat perubahan penampilan. Hanya untuk merayakan pencapaian yang sudah kita lalui selama sekian tahun tak bertemu. Bagaimanapun pencapaiannya. Apakah sesuai dengan hasil konstruksi sosial atau tidak. Tidak peduli. Saya ingin bertemu seperti kawan lama. Entah bagaimana kesepakatan yang akan kita buat setelah pertemuan nanti. Atau saya hanya pulang sambil senyum-senyum, mengingat betapa lucunya dia. Kemudian kembali ke rumah sambil mengenang momen itu. Momen yang memang saya tunggu.
Saya cukup tahu bahwa pertemuan tidak akan terlaksana, jika tidak ada kesadaran penuh dari masing - masing pihak bahwa mereka memang butuh untuk bertemu. Saya pun tidak pernah memaksa. Bagi saya kita tetap berkomunikasi sudah lebih dari cukup.
Dan kesalahpahaman itu terjadi. Lagi. Saya tidak tahu siapa yang salah. Mungkin saya. Lagipula tidak akan ada habisnya mencari siapa yang salah. Manusia cenderung akan mencari pembenaran. Saya ingin meminta maaf, walaupun terkadang permintaan maaf saja tidak cukup. Perlu diam dan berpikir semoga tidak terulang, dengan siapapun.
Saya menulis ini untuk melampiaskan perasaan tidak nyaman dan mengganggu. Saya tidak mau menjadi orang yang meledak - ledak. Karena saya memang mengesalkan kalau sedang marah. Saya tidak mau merugikan orang terdekat. Saya sudah cukup banyak menyakiti dan mengecewakan orang lain. Dan tidak mau menambah rasa sakit orang lain. I revealed my flaws to him. As time goes by, slow but sure, that would be slightly increased.
Saya merasa kehilangan teman. Saya kehilangan tanpa bisa memberi kejelasan kepadanya. Apakah masih bisa diperbaiki. Apa disudahi saja. Saya orang yang tidak ekspresif dalam mengungkapkan perasaan. Saya meyakinkan sesuatu melalui perbuatan. Termasuk lewat tulisan ini. Saya sungguh berharap apa saja yang memang terbaik buat dia. Karena dia sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup. Saya belajar lagi untuk percaya terhadap diri sendiri. Untuk tidak takut melangkah, memperjuangkan hidup, tidak cengeng berlama - lama, tidak takut mencoba sesuatu selagi saya punya kendali diri.
You're the one of breathtaking person that I've ever met. I couldn't describe it clearly. I hate to admit it. I hate when we used to be somebody, then we are nobody. I really don't know what I feel and how to deal with it..
I just want you to know, this makes me sad
I just want you to know, this makes me sad
Komentar