Quarter life crisis adalah tema yang masih saja sering dibahas dalam sesi curhat di inner circle saya beberapa tahun belakangan. Kebanyakan sih, dari mereka yang curhat sesama jomblo. Oh, jadi ini alasanku menjomblo.
Ada juga beberapa dari mereka yang sudah menikah juga curhat ke saya. Kalo mereka yang sudah menikah curhat, saya yang hati2 dan ngasih batasan sejauh mana mereka boleh curhat. Soalnya kan ranah pribadi ya, ngga boleh terlalu terlibat.
Ada juga beberapa dari mereka yang sudah menikah juga curhat ke saya. Kalo mereka yang sudah menikah curhat, saya yang hati2 dan ngasih batasan sejauh mana mereka boleh curhat. Soalnya kan ranah pribadi ya, ngga boleh terlalu terlibat.
Ada yang curhat penampilan, karir, relationship, finansial, dan lain - lain yang kayaknya kalo dibikin klasifikasi tema itu rumit.
Intinya adalah masalah. Kekhawatiran, ketakutan, keraguan, pesimisme, pokoknya yang sedih2.
Kalo di curhatin kayak gitu, saya sebagai pendengar dan pengamat ekspresi mikro, bingung mau respon bagaimana. Karena yang dicurhatin kondisinya ngga lebih baik daripada yang curhat.
Sebagai manusia biasa yang punya emosi : seneng, sedih, takut, khawatir, semua perasaan itu adalah hal yang wajar dan manusiawi. Menurut saya, ngga ada salahnya meluapkan emosi, tentunya dengan cara yang tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Kalo mau meluapkan dengan cara meditasi, tarik nafas dalam, melipir bentar dari kerumunan, curhat, wudhu, bahkan mau nangis ya ngga apa2. Tapi ngga pake nangis guling2 di tanah ya, plis inget umur. Atau apapun ekspresi dan luapan emosi yang sekiranya bisa melegakan hati dan pikiran, silakan dilakukan dengan cara yang baik dan tidak merugikan.
Maka dari itu, kalo ada temen atau siapapun yang bilang, "Kamu anaknya baperan (bawa perasaan) ih.." ke orang yang sedang curhat, fix yang bilang baperan lupa kalo dia manusia. Namanya manusia kan punya perasaan.
Kehidupan dunia memang ngga pernah menjanjikan untuk mulus, bebas dan lepas dari masalah. Tapi apapun masalah yang dihadapi, selama dikasih nafas, kehidupan harus terus berjalan, kan?
Salah satu cara, untuk tetap bertahan dengan kondisi yang rumit adalah, tetap merawat akal sehat.
Sering saya bilang ke temen, "Apapun kondisi kamu, pikiranmu kudu waras !".
Buat saya, itu keharusan. Nyatanya, dengan tetap menjaga kewarasan kita bisa berpikir jernih, lebih bisa bersikap, dan mengambil keputusan. Yang paling penting adalah kita tidak ada niat untuk membahayakan sendiri maupun orang lain, saking kusutnya pikiran. Jangan sampai.
Selain itu, kamu patut bersyukur, jika masih ada mereka yang tetap peduli denganmu, sebesar dan serumit apapun masalahmu.
Selain itu, kamu patut bersyukur, jika masih ada mereka yang tetap peduli denganmu, sebesar dan serumit apapun masalahmu.
#selfreminder
Komentar