Remahan

Tulisan ini terinspirasi dari obrolan anak SMP di angkot. Btw, gue duduk di sebelah sopirnya *oke ini di skip aja.

A: "Eh habis S1 apa?"
B : "S2, S3"
gue dalam hati : hmmm S teler enak nih siang siang
A: "Eh sekarang sarjana banyak yang nganggur, banyak pengangguran."
gue dalam hati : hmmmm kok gue sedih, kamu belom ngerasain dek
A: "Gelarnya apa sih S3? Profesor ya?"
B: "Kalo S3 doktor, dokterandes kali ya.."
A: "Kata kakakku kalo profesor gajinya gede, padahal di rumah doang, 15 juta perbulan."
B: " Masa sih? Kalo di rumah terus yang gaji negara kan? Masa ngga ngapa - ngapain .."
A: "Eh yang punya Undip cina bukan ya? Aku pengen liat rektornya. Berarti cina kaya ya..."
B: "Kata siapa cina kaya, ngga mesti......"


Dan gue pun turun dari angkot karena uda sampai di kampus. Sebenernya mau gue lanjutin ngobrol asik sama mereka.. apa daya masa depan gue di depan mata.. maklum mahasiwa semester akhir zaman.

Moral story : Yang mau disoroti dari obrolan di atas adalah tentang stereotype terhadap suatu kaum terkait ras, suku, dan agama. Menghilangkan atau mengubah stereotype memang susah. Apalagi stereotype yang sudah ada dari jaman dahulu. Yang berbahaya adalah stereotype dari orang tua yang diturunkan ke anak. Maka akan muncul generasi yang penuh labelling dan judgemental. Tapi ngga selalu sih ya. Semua bisa berubah seiring pengalaman hidup yang dialami si anak. Harus banyak belajar nih sebagai orang tua.

Semoga aku dan kamu nanti jadi orang tua yang bijak dan tangguh ya Bang.

cc : Bang ...................................................................................................................

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Path