.
Ada beberapa hal yang memang-sebaiknya-harus-ditahan, jangan diungkapkan sekarang dengan tergesa-gesa. Apalagi dengan situasi dan kondisi yang dirasa kurang mendukung. Tentang perasaan misalnya. Karena apapun yang sudah terlanjur di ungkapkan, akan mengubah kehidupan yang akan datang, pertemanan yang telah terjalin, dan perasaan itu sendiri. Semua berbeda.
Aku tidak menyalahkan siapapun yang terlanjur mengungkapkan, itu hak mereka. Aku pun tidak menyalahkan mereka yang tidak kunjung mengungkapkan perasaan. Bahkan sampai mereka mati. Mereka pasti punya alasan tersendiri. Tidak ada yang salah dan benar. Manusia dewasa berhak untuk memilih. Dan aku lebih memilih untuk menahan.
Karena aku takut.
Takut memuja perasaanku sendiri, karena aku tidak bisa membedakan apakah aku tulus atau hanya kesenanganku sementara.
Takut banyak berharap, karena sewajarnya manusia selalu mengharap diberi harapan.
Takut gamang, karena terlalu memikirkan perasaan itu sendiri.
Takut terlalu dekat, karena yang terlalu dekat bisa menggoyahkan iman.
Takut terlena, karena yang menyangkut perasaan bisa melupakan kewajiban dan produktivitas .
Takut lupa waktu, karena soal perasaan memang melibatkan waktu.
Memberi jarak dan spasi diperlukan.
Agar cerita dibuku lebih dapat dipahami pembaca. Hal itu sama diberlakukan untuk cerita ini.
Kalau dibilang aku penakut, aku memang penakut. Aku takut mengubah pertemanan yang sudah ada. Nyatanya kita memang tidak bisa berlaku seperti biasa. Apalagi aku.
Kalau waktu bisa diputar aku lebih menikmati waktu yang dulu. Saat belum ada yang diungkapkan, satupun. Saat kita menikmati pertemanan dengan batasan – batasan. Kalau aku dibilang kaku, memang aku kaku.
Kalau dibilang rumit, aku memang rumit. Karena aku menyelamatkan diriku, dari banyak ke-tidak mungkin-an yang bisa datang sewaktu –waktu. Ke-tidak pasti-an, yang -mungkin- berujung kekecewaan.Yang dapat membuatku melupakan hal yang sebenarnya jauh lebih penting-dan-pasti dari pada perasaanku yang mungkin-tidak-pasti.
Masihkah kamu mau bertahan dengan segala kerumitan dan ketakutanku?
Ada seorang seniman yang pernah bilang,“Jangan sengaja pergi biar dicari. Jangan sengaja lari biar dikejar. Berjuang tak sebercanda itu.”Untuk apa aku pergi dan lari? Itu tidak dapat mengembalikan perasaan dan kata yang sudah terungkap.
Mungkin dulu salah satu dari kita berjuang, kamu. Kemudian aku, yang terlambat memahami diri sendiri. Dan nyatanya, sekarang tidak ada dari kita yang berjuang, benar? Aku juga sedang tidak bercanda, kan?
Tidak perlu menyalahkan siapapun. Semuanya sudah terlewati, tapi belum ada yang terlambat. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki niat. Niat yang lurus.
Atau mungkin, kamu sudah mendapatkan yang jauh lebih baik? Aku juga tidak tahu. Itu adalah salah satu dari banyak ke-tidak pasti-an yang tidak bisa aku halangi.
Karena setiap manusia memang berhak mendapatkan sesuatu yang jauh lebih baik.
Termasuk kamu. Tidak perlu bilang apa - apa. Semakin banyak menulis, semakin banyak berpikir. Semakin banyak pula energi yang dibutuhkan. Melelahkan. Cukup nikmati dan syukuri hidupmu yang sekarang. Karena itu lebih baik. Selamat menikmati hidup.Bersiaplah untuk kejutan hidup yang selanjutnya.
Nb : Thank you buat Om Sudjiwo Presiden Republik Jancoek-ers yang sudah menciptakan quote yang fenomenal. Nggak usah jadi presiden Om. Rawan di bully.
Saat hujan rintik di pinggiran kota, 14 April 2015
Fina menutup buku diary-nya. Dia pun mulai mematikan lampu tidur. Berharap esok dia bangun dari tidur panjang. Dan melanjutkan mimpi yang sementara dia tunda.
Fina menutup buku diary-nya. Dia pun mulai mematikan lampu tidur. Berharap esok dia bangun dari tidur panjang. Dan melanjutkan mimpi yang sementara dia tunda.
Komentar