Cantik Bukan Editan

Buat  saya yang katrok dan kampungan, teknologi yang berkembang macam sekarang ini membuat saya berdecak kagum wow sekaligus fiuhh. Kadang nggak habis pikir aja dengan smarthpone yang berukuran layaknya tempe mendoan  ibu kantin (kecilan dikit sih) kita bisa mengakses apa aja. Mulai dari email, internet, chatting dan hal hal yang mungkin tahun 1995 pas lagi jamannya uang saku 500 rupiah, nggak kepikiran buat begituan. Apapun merk smartphone nya mulai dari apple, anggur, samsung, samsul, samsudin, mitto, LG, asus dan  bla bla bla sama canggihnya menurut saya. Semakin terbukanya informasi seperti sekarang ini uda oke banget. Gampangnya,  tanpa perlu jauh jauh ke Amerika kita udah tau presiden Obama lagi sarapan apa, pake deodorant apa, uda sikat gigi atau belum, lewat path, instagram, portal berita dan lain – lain. Itu juga kalau dia posting. Asal full wifi atau kuota internet dan full batere  dijamin kenyang mantengin smartphone 24 jam.

Tapi yang bikin fiuhh adalah adanya aplikasi edit editan.

Alkisah saya yang sebenernya nggak begitu suka selfie, soalnya mau pose gimana mukanya nggak bisa kayak Shireen Sungkar, memutuskan iseng iseng untuk selfie di akhir pekan, bener bener my self, salah siapa jomblo, hih. Pakailah kamera depan. Pas lihat hasilnya kok muka agak tirusan, seneng dong,  hahahaha, bangga. Akhirnya diet nggak makan nasi 2 jam berhasil.  Jujur agak aneh sih kok nih muka bukan kayak saya, rada mirip Shireen, siapa yang salah nih, mukanya? Apa kameranya? Apa salah Pak RT? Kemudian saya bercermin. Wah kok mukanya bulat gini? Ini salah siapa? salah cermin? Salah tukang bakso? Apa salah Rhoma Irama?

Tiba tiba saya sadar kalau ini mungkin salah yang punya hape, karena dia labil.

Saya cek lagi setting kameranya. Mungkin karena habis di upgrade, jadi banyak fitur tambahan yang saya nggak paham. Setelah diperhatikan, ternyata fitur foto yang bikin muka tirus sedang aktif. Tak hanya itu, saya baru tau ada juga setting fitur untuk mata besar dan wajah mulus. Ya ampun... sebegitunyakah definisi cantik atau tampan sampai sampai ada yang bikin fitur editan gituan? Fiuhhh

Dulu emang pernah punya aplikasi camera 360 tapi saya uninstall. Soalnya abis foto pake itu muka jadi serem. Padahal emang udah serem sih. 

Jadi ingat ada berita tentang seorang wanita yang dipukulin teman pria saat kopi darat gara - gara wajahnya nggak seperti yang dibayangkan, berbeda dengan yang ada di sosial media si cewek. Kasihan ya. Sebagai seorang cewek tulen sedih sekali dengernya. 

Disini bukan mau bahas siapa yang salah sih. Cuma mau mengkritisi hubungan antara aplikasi editan dengan tingkat kepercayaandiri seorang manusia. 

Yaelah itu judul skripsi-able banget yak. Jadi pengen skripsi lagi. *lempar gorengan dan wajannya* *lulus aja susah,sombong kau nak*

Dear manusia, pakailah aplikasi editan sewajarnya. Jangan berlebihan. Kalo bisa sih nggak usah pake. Bahasa instagramnya no filter. Biar alami dan kerutannya terlihat. Jadi sebagai peringatan kalo kita sudah berumur. *duh, inget umur**kamu aja kali, Bel*

Dulu pas masih muda dapet materi teori hierarki Maslow. Bahwa puncak tertinggi kebutuhan manusia setelah kebutuhan dasarnya terpenuhi adalah aktualisasi diri.  Banyak cara manusia mengaktualisasikan dirinya. Ini loh guwe, bisa berprestasi, bisa kayang, bisa minum dari hidung, bisa makan mi ayam dalam waktu 1 menit. Bisa nulis alay di blog --> ini saya.  Apalagi di jaman seperti sekarang ini. Dimudahkan dengan beragam sosial media dan kawan - kawannya. Dan bagi mereka yang merasa wajahnya kurang menarik sangat terbantu dengan adanya aplikasi editan. Sebenarnya itu hak mereka sih. Tapi sedih aja, sama editan yang terlalu berlebihan dan membuat orang lain merasa 'tertipu'. Sedih juga sama propaganda media dan iklan yang mendefinisikan cantik itu putih, cantik itu tinggi, cantik itu langsing, dan lain - lain. Padahal definisi cantik itu berubah dari waktu ke waktu. Media dan iklan seperti 'mencuci otak' bahwa begini ini nih yang cantik, yang nggak kayak gini berarti black listed. Banyak deh ditemukan foto foto yang di putihin mukanya lah, diilangin jerawatnya lah, disamarkan kerutan lah. Jadi nggak seperti dirinya sendiri. Jadi kurang bersyukur. Catatan diri sendiri biar nggak suka ngedit muka sendiri biar dibilang kayak Nikita Willy. Kadang kaget juga pas foto buat urusan formal di studio foto masa iya di toko bangunan lihat hasilnya, kok muka saya putihan? kantung matanya kemana? jerawat diumpetin dimana? Kok mukanya kayak artis? Antara seneng buat pencitraan tapi khawatir juga pas razia KTP gimana kalo ditangkap polisi gegara muka asli sama muka foto beda? Tapi apa daya, mungkin itu bagian dari pelayanan studio foto. 

Cobalah lebih sedikit rileks tentang definisi cantik. Saya sendiri masih belum menemukan definisi cantik yang sebenarnya. Bagi saya, semua wanita itu cantik seperti apapun bentuk dan warna kulitnya. Peduli amat dengan yang bilang cantik itu putih, cantik itu mulus, bla bla bla. Lelah deh kalo nurutin kemauan manusia yang pada dasarnya tidak pernah puas. Tak perlulah memusingkan penilaian seseorang tentang cantik atau tidak. Apalagi sampe mengedit  foto wajah berlebihan yang membuat orang lain pangling. Hargai dirimu sendiri, hargai orang lain. Pergilah keluar dan lihat hamparan langit luas. Cantik bukan? Sayang sekali jika keindahan alam ini terabaikan begitu saja karena pikiran sempit kita tentang penilaian fisik. Nikmati hidupmu. Berkarya. Cintai orang sekitarmu. Abaikan mereka yang merendahkanmu. Bersyukur. Jadilah percaya diri !

Dear kamu kamu wanita yang cantik... biarkanlah mereka yang menilai wanita dari kecantikan fisik berlalu. Lupakanlah mereka yang menghinamu. Sangat disayangkan jika kita sebagai wanita hidup hanya berpatokan pada standar kecantikan industri. Standar kecantikan pabrik. Kamu punya sesuatu yang lebih pantas dibanggakan ketimbang kecantikan semata. Berkaryalah selagi masih bernapas. Dibalik kecantikan wajah seseorang, ia hanyalah kumpulan otot dan jaringan yang berbalut kulit. Tidak lebih. Yang pada akhirnya jika mati akan dimakan cacing tanah. Tunjukkan dirimu melalui karya yang kamu bisa dan mampu. Jangan lupa untuk merawat diri, bukan untuk orang lain, tapi sebagai bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Buang saja para pria yang meremehkan dan merendahkanmu ke tempat yang jauh. Mungkin pria itu lupa pernah dilahirkan oleh seorang wanita. Yakinlah ada pria yang mampu menghargaimu dan mengistimewakanmu bukan dari fisikmu. Karena kamu memang pantas untuk itu.

Untuk para pria atau wanita yang mulutnya suka komen usil tentang kecantikan seseorang. Tolong deh kumur - kumur pakai air garam dan air sabun. Jangan terlalu naif dan berpikiran sempit. Hargai orang lain.  

#selfnote #opini #fenomena





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Path