Jadi, Kapan?
Tulisan ini saya muat terinspirasi dari pengalaman lingkungan sekitar (dan saya pribadi).
Cerita 1
Suatu hari di siang bolong, nggak ada angin nggak ada hujan, Kaprodi saya tiba – tiba mengejutkan saya.
Ibu Kaprodi : “Gimana Mba? Kapan nikah?”
Me :”Hah? (kaget, terperanjat, terkejut, terkesima, terharu) saya... mm kapan ya bu? Sama siapa bu? Belum tau bu, hehehe..”
Si Ibu : “Ya... jangan lama – lama Mba. Mumpung masih muda. Habis lulus nikah dulu...habis itu baru kerja atau sekolah lagi.”
Me : “Iya bu. Doain aja, hehehe...” (saya nyengir kuda, kemudian lari lari sambil nangis)
Bu, hal itu tidak semudah membalikkan telapak kaki kuda.
Cerita 2
Ada pertanyaan dari adik kelas yang rese perhatian dan unyu banget.
Si adek : “Mba... kapan nikahnya?”
Me : “Pengennya segera dek, ntar lagi nyari di toko bangunan. Siapa tau nemu.”
Adek :”Si Embak mah sukanya becanda...”
Pas itu saya lagi bikin skripsi dan belum kelar. Mungkin kalau saya dilamar saat itu, saya pengen dikasih mahar satu bendel skripsi plus acc dosen.
Cerita 3
Alhamdulillah uda lulus nih ceritanya *bangga,hahaha*
Ada adek kelas lagi (maklum kebanyakan saya gaulnya sama anak – anak kecil. Bukan pedofil) yang sms di sore hari yang mendung.
Si Adek : Mba shireen selamat ya udah wisuda..... :D
Me : Iya dek, Alhamdulillah... Makasih yaaaa... kamu orang ke sepuluh yang ngucapin selamat ke aku... pokoknya makasiii (betewe shireen itu nama hoki saya dikampus, dirumah saya dipanggil Bambang)
Si Adek : Mba habis ini mau langsung nikah?
Me : Dek pertanyaannya yang itu dijawab essay apa ada pilihan ganda? Aku lagi nungguin pangeran berkuda poni.
_________________________________________________________________
Dari tiga cerita itu saya berkesimpulan : mungkin wajah saya uda mirip sama janur kuning.
Ketika seseorang memasuki usia 20-an, maka salah satu hal yang sering diperbincangkan adalah pernikahan. Bukan, saya nggak lagi galau kok *nangis di depan laptop*. Dari buku yang pernah saya baca *bukan buku Matematika yang jelas* salah satu tugas perkembangan manusia di usia dewasa awal adalah membentuk keluarga baru. Wajar lah kalo cewek atau cowok seumuran kalian dan saya pasti kepikiran bahwa suatu hari bakalan menikah (haseekk). Mau di targetin umur 23 kek, 24 kek ato mungkin mau nikah pas umur 22 tahun 6 bulan 14 hari, it’s depend on you .
Bersyukur lah untuk kalian yang masih kepikiran fitrahnya sebagai manusia. Karena nggak semua orang memikirkan hal itu. Di negara maju, sebut saja Jepang dan Singapura, beberapa penduduknya terutama wanita punya persepsi tidak ingin menikah. Atau wanita tersebut ingin menikah tapi tidak di usia muda. Bahkan ada yang ingin menikah tapi tidak ingin punya anak. Rata- rata mereka lebih memilih karir mapan ketimbang berumah tangga. Ya sebenernya itu pilihan sih. Mereka punya pilihan masing - masing buat kehidupannya. Nih saya kasih linknya ini dan itu .
Saya nggak mau bahas yang macem – macem tentang kesiapan menikah syarat dan kawan-kawannya. Ada orang yang lebih berkompeten lah. Saya kan penulis abal- abal.
Menikah itu sebenernya soal waktu.
Sering kita denger kata orang, si anu nikahnya telat soalnya nikah umur 35 tahun. Si gepeng perjaka tua kayaknya sih nikahnya telat. Hey.. menikah itu bukan sekolahan yang kalo kita dateng jam 7.30 dihukum guru BP karena telat. Nggak ada istilah telat menikah. Kadang nih, saya suka heran sama orang yang memberi label perawan tua dan perjaka tua. Mereka yang dianggap telat menikah ya karena kebetulan baru bertemu jodoh di usia tersebut. Ada yang ketemu sama jodohnya di usia yang muda. Ada yang ketemu jodohnya di pernikahan yang kesekian kali. Ada pula yang bertemu jodoh di usia yang sangat senja.
Karena liat temen se-geng uda pada nikah, kita yang belum jadi galau akut. Pikiran nggak tenang, kerjaan gak fokus. Makan nggak nafsu , tidur nggak nyenyak. Pengennya nonton drama Korea. Santai guys! Sendal jepit boleh aja ketuker. Tapi jodoh nggak bakal ketuker kok!! Kalaupun sampai saat ini ada yang berusia sangat matang tapi belum juga menikah. Percaya bahwa ada hikmah disetiap kejadian. Allah punya maksud lain yang manusia tidak mengetahui.
“...Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.S Al-Baqarah:30)
Sebenernya hal itu nggak cuma berlaku buat jodoh sih. Segala permasalahan kehidupan yang kita alami, kadang kita nggak tahu apa maksudnya, pasti ada pesan yang ingin Allah SWT sampaikan pada kita. Intinya adalah yakin, berdoa, dan terus berbaik sangka. Bahwa Allah SWT akan memberikan yang terbaik untuk kita.
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (Q.S Ath-Thalaaq: 3).
Jadi sembari menanti jodoh (ciyee) mari manfaatkan waktu untuk produktif. Ingin meraih sesuatu yang baik, maka berusahalah dengan cara yang baik. Karena menikah adalah ibadah, maka kita juga harus persiapkan dan belajar ilmunya. Menikah diharapkan long lasting. Orang yang sudah (maaf) bercerai ataupun ditinggal mati pasangannya, saat memutuskan menikah untuk ke sekian kali juga berharap itu adalah pernikahan terakhir. Mau menikah aja kita perlu persiapan, apalagi setelah menikah. Pasca menikah nanti pasti kita akan berusaha mempertahankan apa yang dulu dipertahankan. Jadi pra dan pasca menikah juga butuh pembelajaran dan proses. Terus belajar,memperbaiki diri, dan mengharap ridho-Nya. Yang lebih penting adalah memperbaiki diri untuk menuju ke kehidupan kita setelah mati. :)
Ada jenis cinta yang lain. Cinta jiwa. Cinta ini lahir dari kesamaan atau kegenapan watak jiwa. Jiwa yang sama atau berbeda tapi saling menggenapi biasanya akan saling mencintai. Cinta ini yang lazim ada dalam hubungan persahabatan dan perkawinan atau keluarga. Cinta ini mengharuskan adanya respon yang sama: cinta tidak boleh bertepuk sebelah tangan disini. -Anis Matta-
Komentar