Tentang Putri Kecil

     Putri kecil yang dulu berambut sebahu dan berponi kini sudah beranjak dewasa. Dia bukan lagi putri kecil yang membawa bekal  ke sekolah setiap hari. Dulu, dia sangat sering membawa nasi goreng telur dadar yang disiapkan ibunya. Rasanya memang sedikit hambar. Tapi bagi putri kecil itu adalah nasi goreng paling enak di dunia. Klise. Memang klise. Namun putri kecil yang kini telah dewasa sadar, apapun masakan yang dimasak dengan penuh cinta rasanya pasti enak.

     Putri kecil saat ini bukan putri kecil yang dulu sering menangis ketika dihina temannya. Putri kecil menjadi lebih tegar ketika dia dewasa. Dia ingat ibunya pernah berkata,”Nak, apapun yang dikatakan temanmu jangan diambil hati. Masih banyak orang yang lebih susah dari kita tetapi masih bisa tertawa. Mereka tertawa bahagia karena Tuhan masih memberikan kesempatan untuk hidup”. Saat ini putri kecil  sudah jarang menangis. Oh iya, dia menangis ketika melihat ibu dan ayahnya menangis melepas kepergiannya. Hari ini putri kecil lebih memilih tinggal bersama dengan pria asing yang baru empat bulan dikenalnya.

 Di suatu senja yang merah sebulan yang lalu …

“Nak, mungkin memang sudah saatnya kamu menentukan hidupmu sendiri,” ujar Ayah yang sambil menyeruput  teh hangat buatan Ibu.  
“Maaf soal kemarin. Ibu hanya kaget dan mungkin kamu menganggap Ibu seperti marah. Ibu tidak bermaksud memarahi. Ibu baru sadar, saat ini kamu berumur 24 tahun. Sudah sepantasnya berumah tangga. Ya… Ibu hanya khawatir. Kamu anak tunggal. Bukannya Ibu tidak rela. Mungkin Ibu yang perlu berbesar hati. Perlu adaptasi,” kata Ibu sambil tersenyum. Senyumannya tidak ada yang berubah. Masih lembut dan hangat seperti dulu.
     
Putri kecil mulai menunduk. Rasanya baru kemarin dia merengek minta dibelikan Barbie. Meskipun butuh waktu beberapa minggu untuk memenuhi keinginan putri kecil, namun Ayah selalu menepati janjinya. Rasanya baru kemarin putri kecil lulus SMA. Dia tidak seperti teman – temannya yang melakukan ritual corat coret baju. Kata Ibu bajunya lebih baik disumbangkan. Dua tahun yang lalu putri kecil lulus sarjana dengan predikat cumlaude. Masih terekam di otak putri kecil, saat dia memberikan kata sambutan dihadapan banyak orang sebagai wisudawati terbaik. 
    
Sekarang putri kecil sukses membuka usaha butik muslimah yang baru dua tahun berjalan. Bakat bisnis memang diturunkan dari sang Ayah. Dan sore ini, putri kecil menyampaikan pada Ayahnya akan ada pria yang akan datang ke rumah. Kata pria asing itu dia mau meminang putri kecil. Bagaimana Ayah dan Ibu tidak kaget. Melihat putri kecilnya membawa teman pria saja tidak pernah. Putri kecil juga tidak pernah curhat tentang kedekatannya dengan lelaki. Tidak seperti Rahma tetangga sebelah. Setiap malam minggu Rahma selalu menghabiskan waktu dengan pacarnya. Puncaknya Sabtu kemarin, putri kecil dan ibunya menghadiri  undangan pernikahan Rahma. Wajarlah, karena mereka pacaran. Rahma teman SD nya saat ini sudah naik status menjadi istri. Ah... waktu memang berjalan begitu singkat. Sesingkat pertemuan putri kecil dengan pria asing itu.

“Siapa Nak lelaki itu?” tanya Ayah penasaran.
“Namanya Kusno. Dia pegawai saya yang baru beberapa bulan bekerja. Insya Allah dia baik. Orangnya sederhana. Tidak neko – neko. Kedua orang tuanya sudah meninggal dunia. Adik pertamanya Kamil bekerja sebagai pegawai di Kedutaan Besar di Turki  dan Rusli adik kedua saat ini sedang menempuh pendidikan doktoral di Jerman. Usianya 40 tahun dan single.”
“Kenapa kamu begitu yakin dengan Kusno?” tanya Ibu.
“Saya merasa klik dengan Mas Kusno, Bu. Saya salut dengan perjuangannya membiayai pendidikan adiknya. Selebihnya saya tidak tahu kenapa merasa nyaman dengan Mas Kusno. Saya melihat dia sosok yang soleh dan kebapakan. Insya Allah ini yang terbaik Bu.” kata putri kecil dengan mantap.
“Baiklah Nak. Besok sore Ayah tunggu pria itu datang kerumah,” ujar Ayah sambil menatap dalam putri kecil.
   
Hari ini air mata putri kecil menetes haru. Begitupun Ayah Ibunya. Sebenarnya putri kecil masih tidak menyangka hari ini akan tiba. Hari dimana putri kecil tidak lagi tinggal dirumahnya yang cukup besar. Pria asing itu telah menyiapkan sebuah kontrakan mungil untuk keluarga barunya. Kontrakan yang sudah 25 tahun dia tempati.  Sungguh tidak ada yang bisa menggambarkan perasaan putri kecil pada hari Jum’at yang sakral itu. Ya… hari itu telah tiba. Hari dimana Ayah dan Ibu harus ikhlas melepas kepergiannya. Bukan pergi kemana – mana. Hanya tidak lagi tinggal serumah dengan Ayah Ibu.
     
Bagaimanapun, putri kecil yang kini sudah menjadi milik pria asing tetaplah putri kecil. Putri kecil bagi Ayah Ibunya. Dan sampai kapanpun dia tetaplah putri kecil. Putri kecil yang tumbuh menjadi dewasa.

Suatu saat Ayah akan menangis melepas kepergian putrinya. Dia bukan lagi putri kecilnya yang ia gendong. Dia bukan lagi putri kecil yang dia timang. Putri kecilnya kini sudah menjadi wanita dewasa. Wanita yang berani mengambil keputusan hidup bersama pria lain. Dan Ayah sangat berharap pria itu dapat menyayangi putrinya. Sebagaimana Ayah menyayangi putri kecilnya yang kini telah dewasa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Path