Postingan

Tidak Jujur

Aku sedang berbohong Bohong kalau aku bilang aku baik – baik saja Bohong kalau aku bilang aku bahagia Bohong kalau aku bilang aku tidak berlebihan Bohong kalau aku bilang hidup ini wajar Bohong kalau aku tertawa terbahak – bahak Bohong kalau aku lupa caranya menangis Bohong kalau aku diam Nyatanya semua itu bohong Aku sedih membohongi diriku sendiri Aku tak peduli orang lain telah aku bohongi Aku jujur kalau aku berbohong Kali ini aku tidak bohong Kamu masih percaya kan? Tolong  jangan berbohong padaku Aku lelah berbohong

.

Ada beberapa hal yang memang-sebaiknya-harus-ditahan, jangan diungkapkan sekarang dengan tergesa-gesa. Apalagi dengan situasi dan kondisi yang dirasa kurang mendukung. Tentang perasaan misalnya. Karena apapun yang sudah terlanjur di ungkapkan, akan mengubah kehidupan yang akan datang, pertemanan yang telah terjalin, dan perasaan itu sendiri. Semua berbeda. Aku tidak menyalahkan siapapun yang terlanjur mengungkapkan, itu hak mereka. Aku pun tidak menyalahkan mereka yang tidak kunjung mengungkapkan perasaan. Bahkan sampai mereka mati. Mereka pasti punya alasan tersendiri. Tidak ada yang salah dan benar. Manusia dewasa berhak untuk memilih. Dan aku lebih memilih untuk menahan.  Karena aku takut.  Takut memuja perasaanku sendiri, karena aku tidak bisa membedakan apakah aku tulus atau hanya kesenanganku sementara.  Takut banyak berharap, karena sewajarnya manusia selalu mengharap diberi harapan. Takut gamang, karena terlalu memikirkan perasaan itu sendiri....

Nasi yang Menangis

Jadi, begini teman. Dikisahkan saya dan seorang  teman ingin makan siang di sebuah tempat yang cukup ramai dan katanya enak. Hari itu cuaca memang cukup panas dan mendukung untuk lapar. Sambil menunggu pesanan datang, saya dan teman ngobrol – ngobrol cantik. Kemudian, datanglah mas – mas yang membawa beberapa piring pesanan. Sayangnya itu bukan pesenan saya. Tapi pesanan meja di seberang saya. Emang sih rombongan yang terdiri dari laki – laki dan perempuan usia dewasa awal itu datang lebih dahulu. Ya sudah, saya ikhlas kalau itu makanan belum jadi rejeki saya. Sabar Bel, kamu lagi lapar. Salah satu wanita dari rombongan itu melakukan hal kekinian sebelum makan. Biasalah di foto dulu makanannya. Entah mau di posting di facebook, twitter, instagram, atau path . Sesukanya aja sih. Cuma kadang nggak habis pikir aja. Kalo dibilang  saya nggak suka, emang kurang suka. Tapi yaudah, abaikan. Tapi yang bikin mengelus dada adalah makanan yang di foto tadi hanya dimakan sedikit. Ma...

Cantik Bukan Editan

Buat  saya yang katrok dan kampungan, teknologi yang berkembang macam sekarang ini membuat saya berdecak kagum wow sekaligus fiuhh . Kadang nggak habis pikir aja dengan smarthpone yang berukuran layaknya tempe mendoan  ibu kantin (kecilan dikit sih) kita bisa mengakses apa aja. Mulai dari email, internet, chatting dan hal hal yang mungkin tahun 1995 pas lagi jamannya uang saku 500 rupiah, nggak kepikiran buat begituan. Apapun merk smartphone nya mulai dari apple, anggur, samsung, samsul, samsudin, mitto, LG, asus dan  bla bla bla sama canggihnya menurut saya. Semakin terbukanya informasi seperti sekarang ini uda oke banget. Gampangnya,  tanpa perlu jauh jauh ke Amerika kita udah tau presiden Obama lagi sarapan apa, pake deodorant apa, uda sikat gigi atau belum, lewat path, instagram, portal berita dan lain – lain. Itu juga kalau dia posting. Asal full wifi atau kuota internet dan full batere  dijamin kenyang mantengin smartphone 24 jam. Tapi yang bik...

Nyatanya

Secangkir kopi sore tadi membuatku masih terjaga malam ini. Aku tidak tega mengistirahatkan otakku yang sebenarnya lelah. Mata ini sungguh terlalu, membiarkan pemiliknya betah menulis di layar komputer semalaman. Ah… benar sekali katamu. Bahwa kopi adalah minuman candu, layaknya canduku pada musim hujan dan wangi keduanya. Katamu kau ingin main hujan, nyatanya saat hujan turun kau sembunyi dibalik payung. Kataku kau harus berhenti minum kopi, nyatanya kau malah memberi segelas es kopi yang kita minum berdua. Hanya menyeruput, katamu. Ya, nyatanya kita memang terlalu banyak berencana atas hal, yang nyatanya belum bisa kita lakukan. Sama seperti sore tadi. Katanya kita akan berpisah dan saling mengucapkan selamat tinggal. Nyatanya dua cangkir kopi terlanjur dingin, obrolan kita menghangat, dan hujan masih turun di luar kedai.  Masihkah bertahan dengan katanya? Sementara nyatanya berbeda?

Catatan Hati Seorang Nona

Sudah terlalu lama sendiri... sudah terlalu lama aku asyik sendiriLama tak ada yang menemani...  Penggalan  lirik lagu mas Kunto Aji yang berjudul “Terlalu Lama Sendiri”  ini mungkin ngena banget di hati para single fighter baca : jomblo seluruh dunia. Kalo saya mah nggak ngerasa jomblo, cuma sendirian, jadi  santai aja kayak di pantai. Tapi kalau boleh jujur, lagu itu emang asik sebagai bahan refleksi diri, sambil bercermin dan berbisik kepada angin, “Oh iya, baru inget ternyata aku lama asik sendiri, padahal muka kan uda mirip sama Alyssa Soebandono kasinoindro ” *kemudian cermin menangis dan retak* Entah kenapa masih banyak orang yang masih mempertanyakan status sendirian di usia yang terlanjur matang. Mungkin itulah orang yang peduli atau lebih tepatnya mau tau urusan orang atau  mungkin sekedar basa dan basi.  Alkisah, saya seorang  Nona yang kurang tidur sehingga di lingkaran matanya menghitam  bekas perjuangan sedari jaman or...

Terima Kasih

Terima kasih, telah membuatku menjadi istimewa Terima kasih, telah membuat tertawa lepas Terima kasih, telah membuatku seperti melihat masa depan Terima kasih, telah membuatku bahagia dengan caramu Terima kasih, membuatku memahami dunia yang konyol namun begitu indah Terima kasih, telah membuatku tertawa sekaligus menangis Terima kasih pada gerimis, yang menggantikan air mata Terima kasih pada pelangi, yang menyiratkan keindahan selepas hujan Dan beribu terima kasih, kepada Tuhan, telah menciptakan pertemuan Yang kemudian menyadarkanku Untuk menumbuhkan harap, hanya kepada Mu