Postingan

Kita

Kita adalah sekumpulan rintik hujan Yang begitu rindu membasahi bumi Namun kemarau menahannya Kita adalah lapisan pelangi Yang sangat ingin menghiasi langit Namun hujan belum juga reda Kita adalah aliran sungai Yang akan bermuara di laut Namun bebatuan membuatnya berkelok Kita adalah para pendaki Yang menantikan fajar di puncak gunung Namun hutan menyembunyikan jalan setapak menuju kesana Kita mungkin bagian dari masa lalu Yang sedang mempersiapkan masa depan Namun Tuhan menghendaki kita untuk bersabar Kita adalah kamu dan aku

Catatan Hati Seorang Blogger

Hai fans... Lama juga ya nggak nulis di blog kawe ini. Iya nih, saya memang sengaja menyibukkan diri mengikuti dinamika politik di Indonesia (Songong mode on. Bedewe, dinamika siapanya dinamo?). Selain saya sibuk dengan beberapa urusan nggak penting, sebenarnya ada satu hal yang cukup menyita waktu, tenaga, dan pikiran sehingga lama tidak mengupdate tulisan di blog yang priceless ini. Yaitu masalah negara. Sebagai pengamat politik amatiran dan karbitan, saya akui serunya perebutan kursi presiden dan wakil presiden periode 2014 – 2019. Seru, lucu, terharu, sedih, bahagia, dan eneg... itulah gambaran perasaan saya selama nonton perebutan kursi orang nomer satu dan dua di Indonesia. Tapi sebenarnya diantara Pak Prabowo dan Pak Jokowi  tidak ada yang klik di hati saya. Seperti yang dikatakan oleh seorang teman sesama mahasiswa (dulu pas saya masih kuliah, sekarang alhamdulillah masih kuliah kehidupan) sebut saja Mawar, yang memberikan kata mutiara, “Memilih presiden tidak hanya me...

Random (Lagi)

Saya adalah salah satu dari banyak orang yang beruntung pernah menjadi mahasiswa keperawatan. Ya... meskipun ke depan belum tentu jadi perawat, saya senang kuliah disana. Banyak hal yang saya pelajari selama menjadi mahasiswa keperawatan. Bukan karena mata kuliahnya yang membosankan, tapi teman – teman dan lingkungan yang menyenangkan. Saya sadar sih, saya bukan mahasiswa pintar. Tidak banyak prestasi yang saya torehkan selama bangku perkuliahan, hahaha. Saya lebih suka di ruang perpustakaan daripada di kelas. Bukaaannnn bukan buat baca buku... tapi numpang ngadem sama numpang tidur siang disana, hahaha.  Satu hal yang paling saya syukuri adalah saya masih jadi wanita yang orientasi seksualnya normal. Saya masih suka sama laki – laki, hahahaha. Tau sendiri kuliah di keperawatan kebanyakan isinya cewek. Jadi kalau saya disuruh pergi ke fakultas lain, terutama fakultas teknik saya selalu semangat soalnya bisa cuci mata. Dari sekian praktik klinik yang dilalui saya paling senang...

Random

Dear Raisha.. Apa kabar Icha ndut kamu disana? Long time no see ... kangen nih sama kamu, lama gak ketawa bareng, nyanyi – nyayi bareng,hahaha. Tumben ya aku kirim surat ke kamu. Iya nih lagi pengen jadi manusia jadul. Walaupun sekarang musim email, facebook, BBM, dan kawan – kawannya, surat itu media pesan yang paling romantis loh. Biasanya aku kirim surat ke orang yang spesial. Kamu kan spesial buat aku hahaha (tuh kan.. aku gombal sama kamu). Icha yang punya tahi lalat di idung, uda berapa lama ya gak kontak. Lama banget. Aku sampe hampir lupa kalo punya temen kamu. hahaha. Cha, aku ajak nge galau bentar ya. Flashback dikit masa lalu kita. Eh, tau istilah galau gak? Kamu pasti gak tahu sama istilah galau. Kamu kan gak gaul kayak aku. Aku sekarang anak gaul loh, meskipun aku uda gak main lagi sama kamu. Aku ngeksis di dunia maya dan dunia fana, hahaha. Eniwei.. masih ingat gak acara buka puasa bersama semasa kelas 2 SMP yang gilak abis? Waktu itu kamu kelihatan cantik pak...

Pilihan

Masih ingat tentang teori sperma dan ovum? Kita manusia yang sudah lahir ke muka bumi adalah hasil perjuangan satu sel sperma diantara banyak sel sperma yang menuju ovum. Kita yang lahir di dunia ini adalah manusia pilihan-Nya.   Sebenarnya dari awal hidup kita tidak terlepas dari pilihan, memilih, dan dipilih. Akal dan hati adalah faktor yang mempengaruhi pilihan manusia. Dan memang tidak mudah dalam memilih. Apapun. Bagaimana dengan penyesalan? Penyesalan adalah konsekuensi logis dalam sebuah pilihan.  Apapun pilihan yang kamu hadapi, semoga kamu memilih tidak hanya menggunakan logika akal, tetapi juga dengan hati. Coba tanyakan hati kecilmu, apa yang sebenarnya kamu butuhkan. Apa yang membuat hatimu merasa nyaman dan tentram. Jujur pada diri sendiri itu perlu. Dan ketika kita sudah menentukan pilihan, kita harus siap menghadapi konsekuensinya. Kalau kita kecewa dengan pilihan? Kecewa itu hal yang wajar. Tapi kita harus berani untuk kecewa. Jangan lupa...

Jadi, Kapan?

Tulisan ini saya muat terinspirasi dari pengalaman lingkungan sekitar (dan saya pribadi). Cerita  1 Suatu hari di siang bolong,  nggak ada angin nggak ada hujan, Kaprodi saya tiba – tiba mengejutkan saya. Ibu Kaprodi : “Gimana Mba? Kapan nikah?” Me :”Hah? (kaget, terperanjat, terkejut, terkesima, terharu) saya... mm kapan ya bu? Sama siapa bu? Belum tau bu, hehehe..” Si Ibu : “Ya... jangan lama – lama Mba. Mumpung masih muda. Habis lulus nikah dulu...habis itu baru kerja atau sekolah lagi.” Me : “Iya bu. Doain aja, hehehe...” (saya nyengir kuda, kemudian lari lari sambil nangis) Bu, hal itu tidak semudah membalikkan telapak kaki kuda . Cerita 2 Ada pertanyaan dari adik kelas yang rese perhatian dan unyu banget. Si adek : “Mba... kapan nikahnya?” Me : “Pengennya segera dek, ntar lagi nyari di toko bangunan. Siapa tau nemu.” Adek :”Si Embak mah sukanya becanda...” Pas itu saya lagi bikin skripsi dan belum kelar. Mungkin kalau saya dilamar saa...

Rumah

Suatu saat nanti (entah kapan), aku ingin punya rumah sendiri. Rumah mungil dengan halaman belakang yang luas. Di halaman itu, akan kutanami berbagai macam bunga. Mawar, kenanga, bougenville , dan masih banyak lagi. Membayangkan halaman rumah dipenuhi segala macam warna bunga saja membuatku tersenyum bahagia. Pasti akan indah dan nyaman sekali disana. Rasanya tidak sabar ingin segera mewujudkannya. Suatu hari nanti (entah kapan), aku ingin rumah yang sederhana saja. Rumah di pedesaan yang dipenuhi dengan pepohonan. Rumah dengan desain interior yang tidak menguras kantong. Rumah yang dipenuhi jendela, agar angin dan sinar matahari dapat masuk. Tentunya membuat para penghuni betah berlama – lama di rumah. Rumah yang dapat membuatku (dan keluargaku, nanti) semakin bersyukur kepada – Nya. Rumah yang menjadi keberkahan untuk kami. Suatu hari nanti (entah kapan), aku ingin rumah yang baik lingkungannya. Tidak perlu perumahan cluster  yang membuatku (dan keluargaku, nanti) menjadi...