Postingan

Rumah

Suatu saat nanti (entah kapan), aku ingin punya rumah sendiri. Rumah mungil dengan halaman belakang yang luas. Di halaman itu, akan kutanami berbagai macam bunga. Mawar, kenanga, bougenville , dan masih banyak lagi. Membayangkan halaman rumah dipenuhi segala macam warna bunga saja membuatku tersenyum bahagia. Pasti akan indah dan nyaman sekali disana. Rasanya tidak sabar ingin segera mewujudkannya. Suatu hari nanti (entah kapan), aku ingin rumah yang sederhana saja. Rumah di pedesaan yang dipenuhi dengan pepohonan. Rumah dengan desain interior yang tidak menguras kantong. Rumah yang dipenuhi jendela, agar angin dan sinar matahari dapat masuk. Tentunya membuat para penghuni betah berlama – lama di rumah. Rumah yang dapat membuatku (dan keluargaku, nanti) semakin bersyukur kepada – Nya. Rumah yang menjadi keberkahan untuk kami. Suatu hari nanti (entah kapan), aku ingin rumah yang baik lingkungannya. Tidak perlu perumahan cluster  yang membuatku (dan keluargaku, nanti) menjadi...

Mencari

Seharian aku berkeliling tempat ini mencarinya. Tiap sudut aku periksa dengan cermat. Bahkan tempat gelap  sekalipun. Tetap saja nihil. Aku sudah bertanya kesana kemari. Tidak ada yang tahu pasti. Aku resah. Waktu terus berlari. Detik berganti menit. Menit berganti jam. Jam berganti hari. Begitu seterusnya. Konsentrasiku buyar. Keringatku mulai bercucuran. Aku panik. Nafasku tersengal. Mataku basah. Aku mulai menarik nafas dalam dan panjang. Aku pejamkan mata. Berusaha merasakan hembusan angin, yang lembut menyentuh kulit. Saat aku membuka mata. Aku melihat ke langit kosong. Apa yang sebenarnya sedang aku cari? Orang – orang itu memaksaku terus mencari. Padahal aku tidak tahu apa yang sedang aku cari. Mereka bilang ,“Cari pundi – pundi di atas bara! Kamu bisa menggunakannya.” Berarti aku harus siap dengan rasa panas di telapak kakiku yang melepuh. Sebagian dari mereka berteriak, “Coba kamu lihat di balik gunung itu! Banyak batu bernilai. Kamu bisa menjualnya.” Artin...

Sajak Detik

Sepersekian detik ini ada yang lahir dan mati Sepersekian detik ini ada yang kelaparan dan kekenyangan Sepersekian detik ini ada yang tidur dan terjaga Sepersekian detik ini ada sehelai daun jatuh Tidak ada satu detik pun terlewatkan oleh Mu Kau pun tahu Sepersekian detik yang lampau Aku bertemu Aku bahagia Sepersekian detik yang lampau Aku berpisah Aku kecewa Sepersekian detik ini Aku tidak ingin menangis

Mati rasa

Bumi seperti ini saja Selalu berputar pada porosnya Aku pun seperti bumi Terus berjalan pada kehidupanku Sampai kapan? Sampai akhirnya aku lelah Sampai rasa bosan itu datang Entah kapan Ya aku sedang bosan Bosan untuk mati rasa Walaupun  mati rasa mungkin memang lebih baik Tolong jangan buat aku mati rasa Aku tidak ingin mati rasa dengan Mu Aku takut...

Terbang

Aku terbang untuk yang ke sekian Menjauh dari tanah Berpadu dengan angin Melayang riang Hingga lupa daratan Mungkin mabuk pujian Aku terbang untuk yang ke sekian Melambung jauh Tanpa peluh Merasakan semilir Sepertinya terhipnotis Tidak lagi realistis Aku terbang untuk yang ke sekian dan aku takut untuk jatuh (lagi) untuk yang ke sekian Aku butuh Tuhan PS. Kalau sudah terbang biasanya lupa kalau sewaktu - waktu (bisa) jatuh. Kapanpun kamu terjatuh, Dia siap memelukmu.

Di Ujung Jalan

Di ujung jalan ini, aku mengamatimu. Kamu yang selalu duduk di bangku taman baris kedua dari kanan. Kamu yang selalu membawa novel, buku, dan pena. Kamu yang selalu mengenakan gelang perak di tangan kanan. Kamu yang selalu membawa sebungkus roti cokelat. Kamu yang selalu tertawa saat membaca novel.  Kamu yang selalu menulis, entah tentang apa. Kamu yang selalu  tersenyum saat melihat awan. Kamu yang selalu meninggalkan bangku taman menjelang senja. Kamu yang selalu aku tunggu. Di ujung jalan ini, aku menatapmu. Mataku selalu mengawasimu. Memperhatikan langkahmu. Memandang dari jauh.  Menikmati melalui jarak tertentu. Tidak perlu mendekat. Aku takut. Terlalu pengecut memang. Menurutku, ini sudah lebih dari cukup. Tanpa perlu menyapamu. Tanpa perlu tahu siapa namamu. Tanpa perlu tahu bagaimana kamu. Tanpa perlu tahu masa lalumu. Tanpa perlu menerjemahkan perasaanku. Tanpa perlu kamu tahu. Di ujung jalan ini, aku bertanya dalam hati. Apa yang sedang terjadi padaku? ...

Diam

Aku butuh waktu untuk diam. Berlama – lama di kegelapan. Memejamkan mata dan menghirup udara malam. Menikmati setiap tarikan dan hembusan nafas. Menenangkan jiwa yang berontak. Melepaskan prasangka buruk. Mencoba berdamai dengan dunia. Aku butuh waktu untuk diam. Hanya mengamati. Tidak ingin banyak berkata. Tidak ada yang perlu disampaikan. Karena memang tidak butuh penjelasan. Cukup mata yang melihat. Telinga yang mendengar. Otak yang berpikir. Hati yang merasakan. Aku butuh waktu untuk diam. Bahkan cenderung apatis. Sedang tidak ingin kritis. Tidak tahu sampai kapan. Mungkin sampai aku mencapai ketenangan, dalam sebenar – benarnya diam. Karena dalam diamku, Kau pun sudah tahu. Bukan begitu?